WEETEBULA, GEMA KAWULA — Sebelas sekolah dasar dari berbagai penjuru Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menyatukan suara dalam satu panggung. Bukan sekadar lomba, perjumpaan itu menjadi ruang bagi anak-anak untuk berani tampil, mengekspresikan bakat, sekaligus mengenal lebih dekat kehidupan Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Sinar Buana (SESIBU).
Lomba Paduan Suara antar SD se-Kabupaten SBD tersebut digelar dalam rangka Dies Natalis SESIBU ke-59, Kamis, 24 September 2026. Mengusung tema “Sanitas Vitae et Sanctitas Cordis”, kegiatan berlangsung dalam suasana penuh antusiasme dan kegembiraan.
Sejak kedatangan para peserta, lingkungan Seminari Sinar Buana tampak lebih semarak. Anak-anak hadir dengan semangat, membawa warna dan energi tersendiri. Bagi para seminaris, kehadiran para peserta juga menjadi kegembiraan tersendiri. Seminari yang biasanya menjadi ruang pembinaan calon imam itu sejenak berubah menjadi ruang perjumpaan dan persaudaraan bersama anak-anak sekolah.
Melalui lantunan suara dan penampilan setiap kelompok, bakat-bakat muda dari berbagai sekolah mendapat kesempatan untuk tampil dan diapresiasi. Lebih dari sekadar mencari pemenang, kegiatan ini menjadi momentum untuk membangun keberanian, kebersamaan, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap seni.
Salah satu Pembina Seminari, Rm. Kletus Evantinus Ngeta, Pr, berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pintu bagi anak-anak untuk semakin berani mengembangkan talenta yang mereka miliki.
“Semoga banyak siswa berani mengekspresikan bakatnya, dan mau bergabung bersama kami di lembaga pendidikan ini,” ungkapnya.
Harapan yang sama juga disampaikan Rektor Seminari Sinar Buana, Rm. Kamilus Pantus, Pr. Menurutnya, Seminari sebagai lembaga pendidikan calon imam tidak dapat berjalan sendirian. Karena itu, relasi dan kerja sama dengan sekolah serta paroki menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan dan pembinaan panggilan.
“Sebagai lembaga pendidikan calon imam, kami tidak mau berjalan sendiri. Kami mau berjalan bersama paroki-paroki, kami mau berjalan bersama sekolah-sekolah,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan seperti lomba paduan suara menjadi kesempatan bagi anak-anak dan remaja untuk mengenal Seminari secara lebih dekat. Bukan hanya sebagai sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai sebuah lingkungan dan cara hidup.
“Kami berharap dengan kegiatan ini pertama-tama anak dan remaja mengenal Seminari dan dengan demikian kenal cara hidup, kenal lingkungannya dan mudah-mudahan terpanggil untuk menjadi seminaris,” lanjutnya.
Di balik riuh tepuk tangan dan merdunya suara anak-anak, terselip sebuah harapan yang lebih besar: agar talenta yang tumbuh di sekolah-sekolah dasar tidak berhenti sebagai sebuah penampilan, tetapi terus berkembang menjadi keberanian untuk menjawab panggilan hidup.
Bagi SESIBU, perayaan Dies Natalis ke-59 bukan hanya tentang mengenang perjalanan panjang lembaga pendidikan calon imam itu. Lebih dari itu, perayaan ini menjadi kesempatan untuk membuka pintu, membangun perjumpaan, dan menanam benih panggilan di tengah generasi muda Sumba Barat Daya.

