29.9 C
Sumba
Monday, October 12, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

KAMIS PEKAN BIASA XXIII-Warna Liturgi: Hijau

Must read

KAMIS PEKAN BIASA XXIII
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I – 1 Korintus 8:1b-7.11-13
Bila engkau melukai hati mereka yang lemah, engkau berdosa terhadap Kristus.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara, Pengetahuan menjadikan orang sombong, tetapi kasih itu membangun. Orang yang menyangka diri mempunyai pengetahuan sebenarnya belum mencapai pengetahuan yang harus dicapainya. Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.

Tentang makan daging persembahan berhala kita tahu bahwa tidak ada berhala di dunia ini, dan tidak ada Allah lain, selain Allah yang esa. Sebab sungguhpun ada apa yang disebut allah, baik di surga maupun di bumi dan memang benar ada banyak allah dan banyak tuhan yang demikian, namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, asal segala sesuatu. Bagi Dialah kita hidup. Dan bagi kita hanya ada satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus; segala sesuatu diciptakan dengan perantaraan-Nya dan kita hidup karena Dia. Tetapi tidak semua orang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang yang karena masih terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Karena hati nurani mereka lemah, maka hati nuraninya ternoda.

Dengan demikian “pengetahuan” menyebabkan kebinasaan saudaramu yang masih lemah. Padahal Kristus juga wafat untuk dia. Maka engkau berdosa terhadap saudara-saudaramu, karena engkau melukai suara hati mereka yang masih lemah. Dan dengan demikian engkau sebenarnya berdosa terhadap Kristus sendiri. Oleh karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, untuk selama-lamanya aku takkan mau makan daging lagi, jangan sampai aku menjadi batu sandungan bagi saudaraku.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan – Mazmur 139:1-3.13-14ab.23-24 – Refren:24b
Tuntunlah aku di jalan yang kekal.

  • Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui apakah aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.
  • Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, Engkaulah yang menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena misteri kejadianku; ajaiblah apa yang Kaubuat.
  • Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!

Bait Pengantar Injil – 1 Yohanes 4:12
Jika kita saling menaruh cinta kasih, Allah tinggal dalam kita; dan cinta kasih Allah dalam kita menjadi sempurna.

Bacaan Injil – Lukas 6:27-38
Hendaknya kalian murah hati se bagaimana Bapamu murah hati adanya.

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Dengarkanlah perkataan-Ku ini: Kasihilah musuhmu. Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kalian. Mintalah berkat bagi mereka yang mengutuk kalian. Berdoalah bagi orang yang mencaci kalian. Bila orang menampar pipimu yang satu, berikanlah pipimu yang lain. Bila orang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.

Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu, dan janganlah meminta kembali dari orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kalian kehendaki orang perbuat kepada kalian, demikian pula hendaknya kalian berbuat kepada mereka. Kalau kalian mengasihi orang-orang yang mengasihi kalian, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Lagi pula kalau kalian memberikan pinjaman kepada orang dengan harapan akan memperoleh sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyaknya.

Tetapi kalian, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan berilah pinjaman tanpa mengharapkan balasan, maka ganjaranmu akan besar dan kalian akan menjadi anak Allah Yang Mahatinggi. Sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan orang-orang jahat. Hendaklah kalian murah hati sebagaimana Bapamu murah hati adanya. Janganlah menghakimi orang, maka kalian pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah menghukum orang, maka kalian pun tidak akan dihukum. Ampunilah, maka kalian pun akan diampuni. Berilah, dan kalian akan diberi. Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan tumpah ke luar akan dicurahkan ke pangkuanmu. Sebab ukuran yang kalian pakai, akan diukurkan pula kepadamu.”
Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan

Saudara-saudari terkasih, dalam kehidupan bersama, kita sering merasa benar karena memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keyakinan tertentu. Namun, Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa hidup Kristiani tidak cukup hanya dengan mengetahui yang benar. Pengetahuan harus berjalan bersama kasih, sebab tanpa kasih, kebenaran dapat dipakai untuk menghakimi dan bahkan melukai sesama.

Dalam bacaan pertama, Santo Paulus berkata, “Pengetahuan membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.” Jemaat di Korintus mengetahui bahwa berhala tidak mempunyai kuasa dan hanya ada satu Allah. Pengetahuan itu benar. Namun, Paulus mengingatkan agar kebebasan mereka tidak menjadi batu sandungan bagi saudara yang imannya masih lemah.

Di sinilah kita menemukan ukuran kedewasaan iman. Orang yang dewasa bukanlah orang yang hanya mempertahankan haknya, melainkan orang yang bersedia membatasi dirinya demi kebaikan sesama. Paulus bahkan berkata bahwa ia tidak mau melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan saudaranya jatuh ke dalam dosa.

Pesan ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Mungkin ada perkataan atau tindakan yang menurut kita biasa saja, tetapi ternyata melukai orang lain. Kita bisa saja berkata, “Saya tidak salah,” tetapi sebagai pengikut Kristus kita perlu bertanya lebih jauh: “Apakah tindakan saya membangun? Apakah perkataan saya membantu orang lain bertumbuh, atau justru membuatnya terluka dan kehilangan semangat?”

Injil hari ini membawa kita lebih jauh lagi. Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, berkatilah orang yang mengutuk kamu, dan berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Perintah ini tidak mudah. Secara manusiawi, kita ingin membalas orang yang menyakiti kita. Namun, Yesus mengajak kita memutus rantai kebencian dengan kasih.

Mengasihi musuh bukan berarti membenarkan kejahatan atau membiarkan diri terus diperlakukan tidak adil. Mengasihi berarti tidak membiarkan kebencian menguasai hati kita. Kita tetap dapat mengatakan bahwa sesuatu itu salah, tetapi tanpa dendam. Kita dapat menjaga jarak demi keselamatan, tetapi tetap mendoakan pertobatan orang yang menyakiti kita.

Yesus juga mengingatkan, “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Ampunilah, dan kamu akan diampuni.” Kita sering mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit menyadari kelemahan diri sendiri. Kita ingin dimengerti, tetapi kurang berusaha memahami. Kita ingin diampuni, tetapi masih menyimpan kesalahan orang lain.

Saudara-saudari terkasih, kedua bacaan hari ini menyampaikan satu pesan yang kuat: kasih harus menjadi dasar seluruh sikap hidup kita. Pengetahuan tanpa kasih dapat melukai. Kebebasan tanpa kasih dapat menjadi batu sandungan. Kebenaran tanpa belas kasih dapat berubah menjadi penghakiman.

Marilah kita memohon rahmat Tuhan agar mampu menggunakan pengetahuan untuk membangun, kebebasan untuk melayani, dan kekuatan untuk mengampuni. Semoga kita berani mengalah demi kebaikan, mendoakan orang yang menyakiti kita, serta memperlakukan sesama sebagaimana kita ingin diperlakukan. Sebab ukuran yang kita gunakan terhadap orang lain, akan digunakan pula terhadap kita. Amin.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article