29.9 C
Sumba
Monday, October 12, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

Sabtu Pekan Biasa XXIII – Warna Liturgi: Hijau

Must read

SABTU PEKAN BIASA XXIII
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I – 1 Korintus 10:14-22a

Kita ini sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara terkasih, jauhilah penyembahan berhala! Aku berbicara kepada kalian, sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang kukatakan. Bukankah piala syukur yang kita syukuri merupakan persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita bagi-bagi merupakan persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti itu hanya satu, maka kita ini sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu. Perhatikanlah bangsa Israel yang alami: Bukankah mereka yang makan apa yang dipersembahkan mendapat bagian dalam pelayanan mezbah?

Apakah yang kumaksudkan? Apakah daging persembahan berhala itu mempunyai arti? Ataukah berhala itu sendiri mempunyai arti? Bukan! Yang kumaksudkan ialah: apa yang mereka persembahkan itu dipersembahkan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, kalian bersekutu dengan roh-roh jahat. Kalian tidak dapat minum dari piala Tuhan dan sekaligus juga dari piala roh-roh jahat. Kalian tidak dapat mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan dan sekaligus juga dalam perjamuan roh-roh jahat. Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan?

Demikianlah Sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan – Mazmur 116:12-13.17-18 – Refren:17a

Aku mempersembahkan korban syukur kepadamu, ya Tuhan.

  • Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan.
  • Aku akan mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama Tuhan. Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya.

Bait Pengantar Injil – Yohanes 14:23
Orang yang mengasihi Aku akan mentaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi Dia, dan Kami akan datang kepadanya.

Bacaan Injil – Lukas 6:43-49

Mengapa kalian berseru kepada-Ku, “Tuhan, Tuhan!” padahal kalian tidak melakukan apa yang Kukatakan?

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Yesus menyampaikan wejangan ini kepada murid-murid-Nya, “Tidak ada pohon baik yang menghasilkan buah yang tidak baik. Dan tidak ada pula pohon tidak baik yang menghasilkan buah baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri orang tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik. Tetapi orang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaan hatinya yang jahat. Sebab yang diucapkan mulut meluap dari hati. Mengapa kalian berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ padahal kalian tidak melakukan apa yang Kukatakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan sabda-Ku serta melakukannya, Aku menyatakan dengan siapa ia dapat disamakan: Dia itu sama dengan orang yang mendirikan rumah. Ia menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena dibangun dengan kokoh. Sebaliknya barangsiapa mendengar sabda-Ku dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika dilanda banjir, rumah itu segera roboh, dan hebatlah kerusakannya.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan

Saudara-saudari terkasih, setiap hari kita membuat pilihan: kepada siapa kita percaya, nilai apa yang kita pegang, dan di atas dasar apa kita membangun kehidupan. Bacaan hari ini mengingatkan bahwa iman tidak cukup hanya diucapkan. Iman harus tampak dalam kesetiaan, menghasilkan buah yang baik, dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Dalam bacaan pertama, Santo Paulus mengingatkan umat Korintus agar menjauhkan diri dari penyembahan berhala. Kita yang mengambil bagian dalam Ekaristi dipersatukan dengan Kristus dan menjadi satu tubuh dengan-Nya. Karena itu, kita tidak dapat mengabdi kepada Tuhan sekaligus menyerahkan hati kepada hal-hal yang menjauhkan kita dari-Nya.

Berhala zaman sekarang tidak selalu berupa patung. Uang, kekuasaan, jabatan, popularitas, kesenangan, bahkan telepon genggam dapat menjadi “berhala” ketika semuanya itu menguasai hati dan membuat kita melupakan Tuhan. Kita mungkin hadir dalam Misa dan menerima Komuni, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih dikuasai oleh iri hati, kebencian, keserakahan, atau ketidakjujuran. Santo Paulus mengajak kita memiliki hati yang utuh: jika kita memilih Kristus, seluruh hidup kita harus diarahkan kepada-Nya.

Dalam Injil, Yesus berkata, “Setiap pohon dikenal dari buahnya.” Kualitas iman seseorang dapat dilihat dari buah kehidupannya. Hati yang dipenuhi kasih akan menghasilkan perkataan yang meneguhkan, sikap yang mengampuni, dan perbuatan yang membawa damai. Sebaliknya, hati yang dipenuhi kebencian akan melahirkan kata-kata yang melukai dan tindakan yang merusak persaudaraan.

Yesus juga menegaskan, “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Teguran ini mengingatkan bahwa menjadi pengikut Kristus bukan sekadar rajin berdoa atau pandai berbicara tentang Tuhan. Kita dipanggil untuk mendengarkan dan melaksanakan firman-Nya.

Orang yang mendengarkan serta melakukan firman Tuhan seperti orang yang membangun rumah dengan menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika banjir dan badai datang, rumah itu tetap kokoh. Demikian juga, orang yang membangun hidup di atas Kristus tidak berarti bebas dari persoalan. Badai kehidupan tetap datang: sakit, kegagalan, kesulitan ekonomi, konflik keluarga, dan kehilangan orang yang dicintai. Namun, ia tidak mudah roboh karena memiliki dasar yang kuat, yaitu iman kepada Kristus.

Hari ini marilah kita bertanya: buah apakah yang dihasilkan oleh hidup saya? Apakah perkataan dan tindakan saya menunjukkan bahwa Kristus sungguh tinggal dalam hati saya? Di atas apakah saya membangun kehidupan—uang, pujian manusia, atau firman Tuhan?

Semoga Ekaristi yang kita rayakan tidak berhenti sebagai sebuah kebiasaan, tetapi sungguh mengubah hati dan kehidupan kita. Marilah kita memilih Kristus dengan sepenuh hati, melakukan firman-Nya, dan menghasilkan buah-buah kasih. Jika Kristus menjadi dasar kehidupan kita, badai sebesar apa pun tidak akan mampu merobohkan iman dan pengharapan kita. Amin.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article