Kambajawa, Gema Kawula – Membaca membuka jendela, menulis meninggalkan jejak. Semangat inilah yang mewarnai kegiatan Taruna Muda Katolik (Taruk) Paroki Maria Bunda Selalu Menolong (MBSM) Kambajawa dalam kegiatan Misa Taruk dan sharing terpimpin, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gereja Paroki MBSM Kambajawa tersebut diikuti sekitar 50 anggota Taruk bersama para pembina. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Moderator Taruk MBSM Kambajawa, Romo Jegho.
Dalam homilinya, Romo Jegho mengajak kaum muda untuk belajar dari keteladanan hidup Padre Pio, orang kudus yang diperingati Gereja pada hari tersebut. Bagi kaum muda, keteladanan Padre Pio menjadi inspirasi untuk menghidupi iman secara nyata dan berani menjadi pewarta di tengah keluarga, lingkungan sosial, maupun sekolah.
“Menjadi orang muda Katolik bukan hanya soal hadir dalam kegiatan Gereja, tetapi juga berani membawa nilai-nilai Injil ke dalam kehidupan sehari-hari,” demikian pesan yang ditekankan dalam perayaan tersebut.
Usai Misa, kegiatan dilanjutkan dengan sharing terpimpin yang dipandu oleh Fr. Sarce dengan tema “Menabung Ide, Abadikan Sejarah.” Tema ini mengajak Taruk untuk melihat membaca dan menulis bukan sekadar aktivitas akademis, tetapi sebagai bagian dari proses pembentukan diri dan cara kaum muda mengolah pengalaman hidup.
Dalam sharing tersebut, Fr. Sarce memperkenalkan semangat “2 M: Minat dan Mau”. Kaum muda diajak untuk memiliki kemauan meminta kesempatan sekaligus kemauan untuk membaca dan menulis. Membaca menjadi cara untuk memperkaya wawasan dan “menabung ide”, sedangkan menulis menjadi sarana untuk mengolah pengalaman dan mengabadikan gagasan.
“Kalau membaca adalah cara menabung ide, maka menulis adalah cara mengabadikan sejarah,” menjadi salah satu gagasan utama dalam sharing tersebut.
Suasana sharing berlangsung interaktif. Para anggota Taruk diajak berbagi pengalaman mengenai kebiasaan membaca dan menulis dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang berbicara tentang pengalaman menulis diary, membuat status di media sosial, hingga berbagai bentuk tulisan sederhana yang selama ini menjadi bagian dari keseharian mereka.
Melalui kegiatan ini, Taruk MBSM Kambajawa diajak untuk membangun budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan berefleksi. Kebiasaan sederhana tersebut diharapkan dapat membantu kaum muda menjadi pribadi yang tidak hanya aktif dalam kehidupan menggereja, tetapi juga mampu mengolah pengalaman, menyampaikan gagasan, dan memberi kontribusi positif bagi keluarga, Gereja, serta masyarakat.
Bagi Taruk, sejarah tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Kadang ia bermula dari sebuah buku yang dibaca, sebuah gagasan yang dicatat, atau sebuah pengalaman sederhana yang berani dituliskan.
Sebab, apa yang tidak ditulis mungkin hanya tinggal dalam ingatan. Tetapi apa yang ditulis, suatu hari bisa menjadi cerita yang diwariskan.

