CAMME, GEMA KAWULA — Hasil pertanian yang disisihkan dan tenaga yang diberikan bersama menjadi tumpuan umat Stasi St. Gabriel Camme dalam membangun gereja baru. Setelah empat tahun membangun serta menghadapi kekurangan dana yang nyaris menghentikan pekerjaan, gereja di Paroki Kristus Raja Waimanggura akhirnya diberkati Uskup Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR, pada Selasa, 29 September 2026.
Perayaan pemberkatan dan peresmian dimulai pukul 09.00 WITA. Bagi umat Camme, selesainya gereja tersebut menjawab kebutuhan akan ruang ibadah yang lebih memadai sekaligus menandai buah perjuangan bersama sejak 2022.
Dalam homilinya, Mgr. Edmund mengajak umat melanjutkan kebersamaan itu dengan meneladani perutusan Malaikat Gabriel, pelindung stasi mereka. Menyandang nama Santo Gabriel berarti mengenal tugasnya dan mengambil bagian dalam pewartaan kabar gembira tentang keselamatan Allah.
Mgr. Edmund menguraikan peran Gabriel ketika menyampaikan kabar kepada Zakarias bahwa Elisabet, istrinya yang sudah lanjut usia, akan melahirkan seorang anak. Zakarias meragukan kabar tersebut dan menjadi bisu hingga anaknya lahir dan diberi nama Yohanes. Kisah ini memperlihatkan bahwa keterbatasan manusia tidak menghalangi rencana keselamatan Allah.
Perutusan Gabriel mencapai puncaknya ketika ia mendatangi Maria di Nazaret untuk memberitakan kelahiran Yesus, Penyelamat dunia. Mgr. Edmund mengajak umat menghidupi semangat perutusan tersebut dengan membawa kabar gembira kepada sesama melalui tindakan nyata sehari-hari.
Keinginan membangun gereja baru muncul ketika bangunan lama tidak lagi mampu menampung umat yang terus bertambah. Keterbatasan ruang terasa terutama saat perayaan Ekaristi dan kegiatan bersama.
Pada 2022, pengurus stasi, tokoh umat, dan pastor paroki saat itu, Pater Segu, CSsR, membicarakan persoalan tersebut. Mereka kemudian memutuskan membangun gereja baru dengan mengandalkan swadaya.
Keputusan itu menuntut usaha besar dari komunitas yang sekitar 90 persen anggotanya bekerja sebagai petani. Dana pembangunan dihimpun dari hasil pertanian dan usaha umat. Mereka juga menyumbangkan tenaga untuk mengerjakan bangunan secara bergotong royong.
Dengan mengandalkan pengalaman para tukang lokal, pembangunan berlangsung bertahap. Namun, dana yang terbatas membuat pekerjaan sempat tersendat dan nyaris berhenti.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Peresmian menyebut total anggaran pembangunan gereja mencapai Rp700.999.200. Selain swadaya umat, dukungan datang dari para donatur, imam, pemerintah, keluarga, kerabat, serta berbagai pihak yang membantu kelanjutan pembangunan.
Pastor paroki saat ini, Pater Matius Selan, CSsR, turut mendukung penyelesaian gereja tersebut, melanjutkan usaha yang dirintis umat bersama pastor paroki terdahulu.
Kini, bangunan yang diperjuangkan selama empat tahun itu siap digunakan untuk perayaan Ekaristi dan berbagai kegiatan menggereja. Dari hasil tani, sumbangan, dan kerja bersama, umat Camme telah membangun rumah ibadah mereka. Pesan Mgr. Edmund memberi arah bagi kehidupan di dalamnya: agar umat yang berkumpul di gereja juga membawa kabar gembira kepada sesama dalam keseharian.

