WEETEBULA, GEMA KAWULA – Menyongsong 105 tahun Legio Maria di dunia dan 20 tahun kehadirannya di Paroki Katedral Roh Kudus Weetebula, para legioner mengikuti rekoleksi di Taman Doa Yesus Maria, Kamis, 3 September 2026. Mereka diajak meneguhkan kembali kesetiaan dalam doa dan pelayanan bersama Maria.
Peserta rekoleksi berasal dari Kuria Maria Bunda Allah Tak Bernoda Weetebula. Mereka datang dari tujuh presidium yang telah dikukuhkan, tiga presidium baru yang belum dikukuhkan, serta anggota Legio Maria dari satu stasi.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Setia Melayani Bersama Maria Menuju Yesus” dan dipandu oleh RD. Evan Riba, pembimbing rohani presidium sekaligus pastor rekan Paroki Roh Kudus Weetebula.
RD.Evan dalam permenunganya mengungkapkan “Bentuk kesetiaan seorang legioner yaitu setia berdoa, setia dalam pertemuan, setia dalam tugas, setia dalam persaudaraan, dan setia ketika tidak dihargai.” Menurut RD.Evan, pelayanan kepada Gereja dan sesama tidak semestinya diukur dari seberapa banyak orang bertepuk tangan. Pelayanan adalah kesempatan menemukan Yesus dalam diri orang yang dilayani.
Bagi para legioner, tema kesetiaan bukan sekadar gagasan yang dibicarakan dalam ruang rekoleksi. Ia menyentuh langsung kehidupan pelayanan: bagaimana tetap berdoa ketika semangat melemah, tetap hadir dalam pertemuan, menjalankan tugas, menjaga persaudaraan, dan tetap melayani meski tidak selalu mendapat penghargaan.
Maria Goreti Binsasi, Ketua Kuria Maria Bunda Allah Tak Bernoda Weetebula, mengatakan rekoleksi tersebut menjadi kesempatan bagi para legioner untuk memperdalam semangat pelayanan dengan meneladani Bunda Maria.
“Penyelenggaraan rekoleksi ini bertujuan untuk membantu para legioner dalam menghidupi semangat Bunda Maria di tengah kehidupan sehari-hari. Bukan terbatas pada aktivitas doa, tetapi nyata juga dalam tindakan kasih,” ungkapnya.
Dalam permenungan, para legioner diajak melihat bahwa kesetiaan bukan berarti hidup tanpa kekecewaan. Orang yang setia tetap dapat merasa lelah, kecewa, bahkan mengalami kelemahan. Namun, semua itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan panggilan pelayanan.
Kesetiaan justru diuji ketika pelayanan tidak berjalan seperti yang diharapkan. Ketika perhatian dan penghargaan tidak datang, seorang legioner tetap dipanggil untuk melayani.
Di tengah perkembangan zaman dan era digital, pertanyaan mengenai kesetiaan kepada Tuhan menjadi semakin relevan. Perubahan zaman menuntut umat tidak hanya mempertahankan kebiasaan berdoa, tetapi juga menghadirkan iman dalam tindakan nyata.
Dalam hal itu, Maria menjadi teladan. Ia dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, peka terhadap kebutuhan orang lain, berani melayani, tekun dalam doa, dan bertahan sampai di bawah salib Putra-Nya.
Maria juga tidak menyimpan Yesus untuk dirinya sendiri. Ia membawa Yesus kepada manusia. Semangat itulah yang kemudian menjadi salah satu panggilan seorang legioner: melayani bersama Maria dan membawa orang lain semakin dekat kepada Yesus.
Maria Imakulata Lede, salah seorang peserta rekoleksi, mengatakan kegiatan tersebut membantunya memperkuat motivasi untuk tetap setia menjalankan tugas pelayanan sebagai anggota Legio Maria.
“Saya bersyukur sekali mengikuti rekoleksi ini. Saya merasa semakin termotivasi untuk menjalankan tugas saya sebagai anggota Legio Maria,” ungkapnya.
Menurut Maria Imakulata, salah satu pesan penting yang diperolehnya adalah bahwa pelayanan tidak seharusnya dipandang sebagai beban. Pelayanan justru menjadi kesempatan untuk berjumpa dengan Yesus melalui sesama.
Pemahaman tersebut, menurutnya, penting bagi kehidupan seorang legioner. Kesetiaan tidak hanya diwujudkan melalui doa, tetapi juga melalui kehadiran dalam pertemuan, kesediaan menjalankan tugas, menjaga persaudaraan, dan tetap bertahan ketika pelayanan tidak mendapat penghargaan.
Antusiasme peserta terlihat dari jumlah kehadiran dan ketekunan mereka mengikuti rekoleksi hingga selesai. Sekitar seratus legioner mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian dan sukacita.
Di penghujung rekoleksi, harapan untuk masa depan Legio Maria ikut mengemuka. Maria Imakulata berharap semakin banyak umat bergabung dalam Legio Maria dan semakin banyak presidium dibentuk di lingkungan-lingkungan.
“Semoga semakin banyak orang bergabung dalam gerakan ini dan di lingkungan-lingkungan dapat segera dibentuk kelompok doa ini. Karena dengan berlegio kita dapat memuliakan Tuhan dan menjadi saluran berkat bagi orang lain,” ujarnya.
Harapan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Legio Maria di Paroki Katedral Roh Kudus Weetebula. Dua puluh tahun kehadiran Legio Maria bukan hanya tentang lamanya sebuah organisasi bertahan, tetapi juga tentang sejauh mana semangat pelayanan terus diwariskan dan dihidupi.
Menjelang 105 tahun Legio Maria di dunia, para legioner kembali diingatkan bahwa pelayanan tidak selalu menghadirkan tepuk tangan. Penghargaan boleh tidak datang, perhatian boleh berkurang, dan perjalanan pelayanan tidak selalu mudah.
Namun kesetiaan tetap memiliki tempatnya sendiri: dalam doa yang tekun, tugas yang dijalankan, persaudaraan yang dijaga, dan keberanian untuk terus hadir bagi sesama.

