WEETEBULA, Gema Kawula— Ibu-ibu dari berbagai gereja di Weetebula berkumpul dalam satu doa, Jumat (24/4/2026), meneguhkan persaudaraan lintas gereja melalui perayaan Hari Doa Sedunia (HDS) di Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Mata. Kegiatan tahunan ini menjadi ruang bersama untuk merawat kerukunan, memperkuat iman, sekaligus menanggapi persoalan sosial dalam terang Injil.
HDS secara nasional diselenggarakan oleh Komisi Perempuan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, sementara di tingkat lokal digerakkan oleh Kelompok Wanita Oikumene Weetebula. Komunitas ini lahir dari kesadaran bersama untuk membangun persekutuan umat Kristiani di tengah perbedaan gereja.
Perayaan kali ini diikuti utusan dari empat gereja: Gereja Katedral Roh Kudus Weetebula, GKS Jemaat Mata, Gereja Betel Indonesia, dan Gereja Pantekosta. Rangkaian kegiatan diisi dengan doa bersama, tarian kreasi bertema persatuan, serta pujian rohani yang menghidupkan suasana kebersamaan.
Pendeta Gustaf Kondi memimpin ibadat dan menyampaikan refleksi yang menegaskan panggilan umat untuk hadir sebagai pembawa harapan.
“Marilah kita meneguhkan komitmen untuk menjadi tangan dan kaki Kristus di dunia yang merindukan kelegaan,” ujarnya, mengutip teks liturgi HDS.
Ajakan itu tidak berhenti pada kata-kata. Ia menjadi seruan profetis untuk berjalan bersama, melampaui sekat perbedaan, dan mewujudkan kasih dalam tindakan nyata.
Mengusung tema “Datanglah kepada-Ku, Aku akan Memberikan Kelegaan kepadamu,” HDS tahun ini mengangkat kisah perjuangan para perempuan di Nigeria. Mereka hidup dalam keterbatasan, diliputi ketakutan dan kegagalan, namun tetap bertahan dalam iman.
Pengalaman itu terasa dekat bagi para peserta.
“Saya sering mengalami hal yang sama—keterbatasan dan banyak tantangan. Tapi lewat HDS ini, saya menemukan semangat baru dan merasa tidak sendirian,” kata Yuliana Nahung dari Katedral Weetebula.
Koordinator Kelompok Wanita Oikumene Weetebula, Ana Angela Lele Biri, menegaskan bahwa penderitaan perempuan di berbagai belahan dunia adalah pengalaman bersama yang menyatukan umat dalam doa.
“Kita bisa saling menolong melalui doa. Kesusahan mereka adalah kesusahan kita juga,” ujarnya.
Ia menambahkan, HDS bukan sekadar kegiatan doa, tetapi juga wadah untuk membangun solidaritas dan memperkuat peran perempuan sebagai pembawa damai—baik dalam keluarga, gereja, maupun masyarakat.
Kelompok Wanita Oikumene Weetebula berkomitmen menjadikan HDS sebagai agenda tahunan yang dilaksanakan secara bergilir di berbagai gereja. Melalui kunjungan lintas denominasi itu, mereka ingin menjaga “api persaudaraan” tetap menyala di tengah umat Kristiani.
Perjumpaan ini menjadi bukti bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan ruang untuk saling meneguhkan—bahwa iman yang hidup selalu menemukan jalannya dalam doa, pelayanan, dan kepedulian bersama.

