29.9 C
Sumba
Monday, October 12, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

Menenun Tradisi Sumba dalam Liturgi, Peserta Lokakarya Mulai Ciptakan Nyanyian Liturgis

Must read

WEETEBULA, GEMA KAWULA – Lokakarya Nyanyian Inkulturatif Liturgis Sumba se-Keuskupan Weetebula berlangsung terus hingga hari ke dua (kamis, 3/9/2026). Para peserta memasuki tahap penting dengan menggali kekayaan musik tradisional Sumba, mendalami tuntutan liturgi, dan mulai mengolahnya menjadi karya nyanyian baru.

Para peserta tidak hanya menerima materi dari para narasumber. Mereka juga mendapat kesempatan untuk mencoba menciptakan nyanyian liturgi secara mandiri dalam suasana yang penuh keberanian dan sukacita.

Setelah dibuka dengan perayaan ekaristi dihari kedua, peserta diajak masuk lebih dalam ke dunia ritmik Sumba bersama Mikhael Nono dan Elson Umbu Riada, praktisi sanggar seni, serta Agustinus Paulus Umbu Tali, akademisi dan pengamat musik daerah Sumba. Ketiganya memperkenalkan dan memperagakan beragam pola ritme yang hidup dalam tradisi masyarakat Sumba.

Bunyi alat musik tradisional, ketukan gong, irama tambur, serta karakter ritmik dari berbagai wilayah di Sumba menjadi bahan eksplorasi bersama. Para peserta menyimak, mencatat, menirukan, dan mencoba mengenali ciri khas setiap pola irama.

Sesi tersebut memperlihatkan bahwa tradisi musik Sumba menyimpan kekayaan yang dapat dikembangkan dalam penciptaan nyanyian liturgi. Namun, unsur budaya itu tidak dapat sekadar dipindahkan ke dalam perayaan Gereja. Diperlukan pengolahan yang matang agar karakter musik Sumba tetap terasa tanpa mengabaikan fungsi suci dan martabat liturgi.

Para narasumber juga membantu peserta memahami bahwa ritme tradisional lahir dari kehidupan masyarakat. Di dalamnya tersimpan pengalaman kebersamaan, kerja, kegembiraan, penghormatan, perjuangan, serta relasi manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Karena itu, mengenali musik Sumba berarti pula membaca kehidupan dan jati diri masyarakat yang melahirkannya.

Setelah mengeksplorasi kekayaan ritmik Sumba, peserta mendapat pendalaman teologi liturgi bersama Rm. Yance. Materi tersebut menjadi dasar penting agar proses inkulturasi tidak berhenti pada penggunaan alat musik tradisional atau penciptaan melodi bernuansa lokal.

Rm. Yance menekankan bahwa liturgi merupakan tindakan Kristus bersama Gereja-Nya. Karena itu, nyanyian liturgi harus ditempatkan dalam kesatuan dengan perayaan iman Gereja, bukan sekadar menjadi hiasan atau selingan musikal.

Dalam penciptaan nyanyian liturgi, peserta perlu memperhatikan teks, pesan teologis, bagian perayaan yang diiringi, serta keterlibatan umat. Lagu yang indah secara musikal belum tentu sesuai untuk liturgi apabila teksnya tidak tepat atau tidak mendukung tindakan ritual yang sedang dirayakan.

Pendalaman tersebut juga mengajak peserta membedakan lagu rohani dan nyanyian liturgi. Lagu rohani dapat membantu kehidupan doa pribadi ataupun kelompok. Sementara itu, nyanyian liturgi memiliki tempat, fungsi, dan tuntutan khusus karena menjadi bagian dari perayaan resmi Gereja.

Pendalaman proses penciptaan dilanjutkan oleh P. Harry Singkoh MSC. Ia memberikan bimbingan teknis sekaligus filosofis mengenai cara mengolah kekayaan budaya menjadi karya musik yang dapat dipertanggungjawabkan secara liturgis.

P. Harry mengajak peserta memperhatikan hubungan antara kata, tekanan suku kata, melodi, ritme, dan suasana yang hendak dibangun. Pemilihan nada dan irama tidak boleh mengaburkan teks. Musik justru harus membantu umat mendengar, memahami, dan menghayati kata-kata yang dinyanyikan.

Karya inkulturatif, karena itu, bukan sekadar lagu Gereja yang diberi irama daerah. Karya tersebut harus lahir dari perjumpaan yang sungguh-sungguh antara iman Gereja dan pengalaman budaya masyarakat setempat. Keduanya perlu diolah melalui proses mendengarkan, mempelajari, mencoba, menilai, dan memperbaiki.

Melalui sesi tersebut, para peserta disadarkan bahwa penciptaan nyanyian liturgi menuntut kreativitas sekaligus tanggung jawab. Seorang pencipta tidak hanya memikirkan keindahan melodi, tetapi juga ketepatan teks, fungsi nyanyian dalam perayaan, dan kemampuan umat untuk menyanyikannya.

Pada bagian berikutnya, peserta mendapat kesempatan menyusun karya cipta secara mandiri. Mereka mulai menentukan teks, mencari pola melodi, memilih ritme, dan menyesuaikan tekanan kata dengan alur musik.

Proses penciptaan itu tidak selalu berlangsung mulus. Ada nada yang harus diubah, tekanan kata yang perlu diperbaiki, dan pola ritme yang mesti disederhanakan agar mudah dinyanyikan umat. Dalam proses mencoba dan memperbaiki itulah peserta mengalami bahwa menciptakan nyanyian liturgi membutuhkan pengetahuan, ketekunan, kepekaan iman, dan keberanian.

Ungkapan “tekad dan nekat” yang muncul dalam materi lokakarya terasa kuat dalam sesi tersebut. Ungkapan itu bukan berarti berkarya tanpa pertimbangan, melainkan keberanian untuk mulai mencipta meskipun peserta menyadari keterbatasan mereka. Keraguan tidak boleh mematikan kreativitas. Pengetahuan yang telah diterima perlu diuji melalui tindakan nyata.

Kegembiraan tampak ketika potongan-potongan melodi mulai terbentuk dan dapat dinyanyikan. Karya-karya tersebut mungkin belum sempurna, tetapi menjadi langkah awal untuk menghadirkan nyanyian liturgi yang tumbuh dari pengalaman iman dan kebudayaan masyarakat Sumba.

Hari kedua lokakarya memperlihatkan bahwa inkulturasi merupakan sebuah proses menenun. Tradisi Sumba menyediakan warna, irama, ingatan, dan identitas. Liturgi memberikan arah, makna, serta ruang perjumpaan dengan Allah. Para pencipta bertugas menenun keduanya secara tekun dan bertanggung jawab.

Melalui eksplorasi ritmik, pendalaman teologi, bimbingan penciptaan, dan latihan mandiri, para peserta mulai bergerak dari posisi sebagai pengguna lagu menuju pencipta karya. Mereka diajak menghadirkan nyanyian yang tetap setia pada liturgi Gereja, sekaligus akrab dengan telinga, hati, dan pengalaman hidup umat Sumba.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article