Kambajawa, Gema Kawula – Umat Paroki Maria Bunda Selalu Menolong (MBSM) Kambajawa merayakan pesta satu tahun dedikasi gereja paroki melalui Misa Syukur, Rabu (7/10/2026). Perayaan ini menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan sekaligus pengingat bagi umat untuk terus menghadirkan Gereja yang hidup di tengah masyarakat.
Misa dipimpin Pastor Paroki, RD. Jack Lodo Mema, bersama lima imam konselebran: RD. Ino Tibu, RD. Kristo Dapa Tadi, RD. Nazar Bego, RD. Ulan Jogo, dan RD. Jegho. Hadir pula hampir seluruh umat dari 17 lingkungan dan 5 stasi.
Perayaan berlangsung meriah dan khidmat dengan nuansa budaya. Umat mengenakan busana adat daerah masing-masing, sementara tarian dari etnis Ngada, Sumba Timur, dan Sumba Barat Daya turut memperkaya perayaan. Koor Vox Angeli mengiringi liturgi dengan lantunan lagu-lagu liturgis.
Dalam pengantar Misa, RD. Jack menjelaskan bahwa pesta dedikasi gereja dirayakan harus setiap tahun sebagai pesta liturgis umat.
“Setiap tahun umat paroki berkewajiban merayakannya sebagai pesta. Bila tidak dirayakan, itu pelanggaran,” ungkapnya.
Perayaan ini juga menjadi kesempatan untuk mengenang satu tahun pemberkatan gereja dan altarnya oleh Mgr. Piero Pioppo, Nuntius Apostolik dan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia. RD. Jack mengajak umat mempersembahkan seluruh diri kepada Tuhan serta mendoakan para donatur dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan gereja.
Dalam homilinya, RD. Ino Tibu menjelaskan bahwa dedikasi berarti memperuntukkan sesuatu bagi tujuan khusus. Gereja yang telah didedikasikan secara khusus diperuntukkan bagi peribadatan umat beriman.
Namun, menurutnya, makna dedikasi tidak berhenti pada gedung gereja. Perayaan tersebut menjadi panggilan bagi umat untuk menjadi Gereja yang hidup, kudus, dan bersatu erat dengan Kristus.
Perayaan semakin bermakna karena sekaligus menjadi ungkapan syukur atas 21 tahun perjalanan imamat RD. Jack Lodo Mema. Setelah Misa, umat mengikuti resepsi sederhana yang diisi sambutan Pastor Paroki, DPP dan Panitia, serta penampilan ATM, Sekami, dan Taruna Muda Katolik (Taruk).
Setiap lingkungan dan stasi turut membawa pangan lokal untuk dinikmati bersama. Kebersamaan itu menjadi penutup sederhana dari pesta iman: gereja yang indah bukan hanya karena bangunannya, tetapi karena umat yang menghidupinya.

