ANDE ATE, GEMA KAWULA — Sebuah gereja tidak dibangun hanya dengan batu, pasir, dan semen. Ia bertumbuh dari iman, dipersatukan oleh doa, dan ditegakkan melalui semangat gotong royong umatnya. Semangat inilah yang mengiringi peletakan batu pertama pembangunan Gereja Paroki St. Paulus Ande Ate, Sabtu, 3 Oktober 2025.
Pastor Paroki St. Paulus Ande Ate, Rm. Stefanus Tamu Ama,Pr bersama Dewan Paroki, umat, serta perencana dan konsultan pembangunan, Bapa Weli Woda Lado dan Ibu Eta, secara resmi mengawali pembangunan gereja paroki melalui upacara peletakan batu pertama.
Momentum bersejarah ini diawali dengan ibadat peletakan batu pertama yang dipimpin langsung oleh Pastor Paroki. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan upacara adat sesuai kepercayaan setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pemberkatan kompleks pembangunan gereja.
Dalam ibadat tersebut, Rm. Stefanus mengajak seluruh umat untuk mengambil bagian dalam pembangunan gereja, bukan hanya melalui kontribusi materi, tetapi juga melalui doa, tenaga, dan keterlibatan nyata. Baginya, pembangunan rumah Tuhan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan semangat persaudaraan dan kerja sama seluruh umat.
Ia berharap, pembangunan gereja paroki ini menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan umat kepada Gereja dan mempererat persatuan dalam kehidupan menggereja.
Lebih dari itu, Pastor Paroki mengingatkan agar proses pembangunan tidak justru menjadi batu sandungan yang membuat umat menjauh dari Gereja hanya karena belum mampu memberikan kontribusi materi.
Sebaliknya, pembangunan ini hendaknya menjadi sumber semangat bagi setiap umat untuk mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang berkontribusi melalui doa, ada yang menyumbangkan tenaga, dan ada pula yang memberikan materi dari hasil usaha dan kerja kerasnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pembangunan gereja bukan semata-mata tentang menghadirkan sebuah bangunan fisik yang megah, melainkan juga membangun kesadaran iman, solidaritas, dan rasa memiliki di antara umat.
Peletakan batu pertama ini pun menjadi awal dari sebuah perjalanan bersama. Sebab, rumah Tuhan yang sedang dibangun bukan hanya menjadi tempat umat berkumpul dan merayakan Ekaristi, tetapi juga diharapkan menjadi rumah persaudaraan, tempat iman bertumbuh, kasih dihidupi, dan umat semakin dipersatukan dalam Kristus.
Batu pertama telah diletakkan. Kini, harapan besar itu berada di tangan seluruh umat: membangun rumah Tuhan dengan iman, doa, kerja keras, dan persaudaraan.

