WEETEBULA, GEMA KAWULA — Lima putra terbaik Keuskupan Weetebula resmi menerima Sakramen Tahbisan Imamat. Lima belas tahun perjalanan panjang dalam formasi, doa, pergumulan, dan penyerahan diri akhirnya bermuara pada satu peristiwa penuh rahmat: menjadi imam dan pelayan umat Allah. Bukan untuk mengejar kehormatan, melainkan untuk mengabdikan hidup bagi Gereja dan sesama.
Perayaan Ekaristi Pentahbisan lima imam diosesan ini berlangsung khidmat dan penuh sukacita pada Kamis, 1 Oktober 2026, di Gereja Katedral Paroki Roh Kudus Weetebula. Perayaan istimewa tersebut bertepatan dengan Pesta Santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus, pelindung karya misi Gereja.
Misa pentahbisan dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR. Puluhan imam dari berbagai paroki dan lembaga se-Keuskupan Weetebula, orang tua, keluarga dan kerabat para imam baru, serta ratusan umat turut hadir menjadi saksi peristiwa bersejarah tersebut.
Suasana perayaan semakin khusyuk melalui lantunan lagu-lagu liturgis yang dibawakan Koor inti Paroki Katedral. Setiap tahapan ritus pentahbisan berlangsung dengan penuh penghayatan, menandai dimulainya tanggung jawab baru kelima putra Gereja itu dalam mengemban tugas pelayanan imamat.
Dalam homilinya, Mgr. Edmund Woga menegaskan kembali martabat, hakikat, dan tugas utama seorang imam. Imamat bukan sekadar jabatan dalam Gereja, melainkan panggilan suci yang menuntut kesediaan untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan melayani umat-Nya.
Amanat tahbisan yang disampaikan Uskup menjadi penegasan bahwa para imam baru kini memikul tanggung jawab besar. Mereka dipanggil untuk menghadirkan kasih Allah, menggembalakan umat, serta menjalankan tugas pelayanan dengan kesetiaan dan kerendahan hati.
Pada kesempatan resepsi, Uskup Edmund dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada orang tua serta para pendidik yang telah mengambil bagian dalam perjalanan panggilan kelima imam baru.
“Terima kasih banyak kepada orang tua, karena sudi mempersiapkan kelima anak-anak ini, sehingga mereka boleh mendengar dan menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi pekerja di kebun anggur,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para pendidik yang telah mendampingi perjalanan pendidikan dan pembinaan para imam baru hingga menerima Sakramen Tahbisan.
“Terima kasih kepada para pendidik yang telah mendidik kelima putra terbaik kita ini hingga pada hari ini dapat menerima Sakramen Tahbisan,” tambahnya.
Kehadiran pemerintah daerah turut memberi warna dalam perayaan tersebut. Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Dominikus Alphawan Rangga Kaka, S.P., hadir bersama umat untuk menyaksikan peristiwa berahmat itu
Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa kehidupan seorang gembala tidak pernah terlepas dari berbagai tantangan dan pergumulan. Karena itu, tahbisan imamat hendaknya tidak dimaknai sebagai jalan menuju kebesaran atau kehormatan pribadi, tetapi sebagai kesediaan untuk menjadi pelayan kasih.
“Sebagai gembala, tentu banyak pergumulan dan tantangan. Ada perjuangan, ada pergumulan. Pentahbisan hari ini tidak untuk menjadikan para romo sebagai orang besar, tetapi sebagai pelayan kasih,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan tugas para imam untuk mencari dan merangkul kembali umat yang mulai menjauh dari kehidupan menggereja.
“Banyak domba yang tersesat. Karena itu, para romo bertugas memanggil kembali domba-domba itu agar jangan hilang,” lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pelayanan imamat selalu berkaitan dengan kepedulian, keberanian untuk menjangkau mereka yang terlupakan, serta kesediaan berjalan bersama umat dalam berbagai situasi kehidupan.
Sukacita tahbisan juga diungkapkan salah seorang imam baru, Rm. Karolus Boromeus Bili, Pr. Dengan mengutip Mazmur, ia mengungkapkan rasa syukur atas kasih dan kesetiaan Tuhan yang telah menyertai perjalanan panggilan mereka.
“Pujilah Tuhan sebab Ia baik, kekal abadi kasih setia-Nya,” ungkapnya.
Bagi Rm. Karolus, peristiwa tahbisan bukan sekadar akhir dari sebuah perjalanan pendidikan dan pembinaan, melainkan sebuah perjumpaan yang mendalam antara waktu manusia dan waktu Tuhan.
Ia menggambarkan perjalanan lima belas tahun formasi sebagai Kronos, yakni waktu manusia, yang akhirnya berjumpa dengan Kairos, waktu Tuhan yang penuh rahmat dan penggenapan.
“Peristiwa tahbisan ini dimaknai sebagai sebuah perjumpaan. Perjumpaan antara Kronos, ‘waktu manusia’, yakni waktu lima belas tahun formasi kami, berjumpa dengan Kairos, ‘waktu Tuhan’ yang penuh dengan rahmat dan penggenapan melalui peristiwa tahbisan hari ini,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa tahbisan yang mereka terima bukanlah semata-mata hasil usaha dan kemampuan pribadi, apalagi karena merasa telah sempurna. Semuanya merupakan buah kemurahan Tuhan yang sejak awal telah menanamkan benih panggilan dalam hati mereka.
“Peristiwa tahbisan ini bukanlah karena usaha pribadi kami, bukan karena kami sempurna, melainkan semata-mata karena kemurahan Tuhan. Dialah yang pertama-tama menjadikan dan membentuk kami, lalu menaburkan benih panggilan dalam hati kami,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus kesadaran bahwa imamat merupakan anugerah yang harus dijawab dengan kesetiaan, bukan sesuatu yang dapat dibanggakan sebagai pencapaian pribadi.
Setelah menerima Sakramen Tahbisan, kelima imam baru mendapatkan tugas perutusan untuk melanjutkan pelayanan di sejumlah paroki dan lembaga pendidikan calon imam di wilayah Keuskupan Weetebula.
Adapun penugasan kelima imam baru tersebut adalah:
Rm. Karolus Boromeus Bili, Pr. — Staf Formator di Seminari Menengah Sinar Buana.
Rm. Daniel Ngongo Ghunda, Pr. — Staf Formator di Seminari Menengah Sinar Buana.
Rm. Mardianus Dita Dawa, Pr. — Pastor Rekan di Kuasi Paroki St. Yohanes Pembaptis Mondu.
Rm. Vitalis Ferdinandus Ghawa, Pr. — Pastor Rekan di Paroki St. Fransiskus Xaverius Gollu Sapi.
Rm. Marianus Wilfridus Sambi, Pr. — Pastor Rekan di Paroki St. Elisabeth Bondo Kodi.
Perutusan ini menjadi langkah awal bagi kelima imam baru untuk menghidupi janji imamat melalui pelayanan konkret di tengah umat dan lembaga Gereja.
Lima imam baru, dengan satu misi yang sama: menghadirkan kasih Kristus di tengah dunia. Hari pentahbisan boleh menjadi puncak sukacita, tetapi kesetiaan dalam pelayanan akan menjadi kesaksian sesungguhnya dari hidup seorang imam.
Sebab, menjadi imam bukan terutama tentang berdiri di depan umat, melainkan tentang kesediaan berjalan bersama mereka, mendengarkan, melayani, dan membawa setiap orang semakin dekat kepada Tuhan.

