WEETEBULA, GEMA KAWULA – Gema musik khas Sumba mewarnai Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Roh Kudus Weetebula, Minggu, 6 September 2026. Dalam Misa penutupan Lokakarya Musik Liturgi Inkulturasi Keuskupan Weetebula itu, para peserta untuk pertama kalinya mempersembahkan lagu-lagu Ordinarium bergaya Sumba yang mereka hasilkan selama lokakarya.
Para peserta tidak hanya hadir dalam perayaan sebagai peserta kegiatan, tetapi juga mengambil bagian sebagai petugas liturgi. Mereka mempersembahkan pelayanan melalui lagu-lagu Ordinarium yang telah disusun dan dilatih selama lokakarya.
Misa penutupan tersebut menjadi kesempatan bagi umat untuk mendengarkan dan menghayati hasil proses inkulturasi musik liturgi yang bersumber dari kekayaan budaya Sumba. Melalui nyanyian itu, corak musikal daerah mendapat tempat dalam perayaan iman Gereja.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Weetebula, P. Agustinus Malo Bulu, CSsR. Hadir pula dua narasumber lokakarya, yakni Rm. Fransiskus Yance Sengga, Pr., Sekretaris Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia, dan Rm. Harry Hermanus Singkoh, MSC, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng sekaligus Direktur Musica Sacra Manado.
Turut hadir Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Weetebula, Rm. Paskalis Khristian Loy, Pr., bersama anggota Komisi Liturgi Keuskupan Weetebula, Rm. Yustinus G. Kedi, Pr., dan Rm. Athanasius Tarsisius Ndate, Pr.
Dalam homilinya, P. Agustinus Malo Bulu mengajak umat untuk tidak berdiam diri ketika menyaksikan kejahatan dan ketidakadilan terjadi di tengah masyarakat. Orang beriman dipanggil untuk memiliki kepekaan dan keberanian, terutama ketika kebenaran dan kebaikan diabaikan.
Untuk menegaskan pesannya, Pater Vikjen mengingatkan umat akan bahaya yang muncul ketika orang-orang baik memilih untuk diam.
“Yang dibutuhkan Iblis untuk terus berkarya adalah membuat orang baik diam. Maka, kita tidak boleh diam dan merasa biasa-biasa saja ketika melihat kejahatan dan perilaku buruk terjadi di tengah masyarakat,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi ajakan bagi umat agar tidak terbiasa atau bersikap acuh terhadap kejahatan dan ketidakadilan. Iman tidak hanya dihayati melalui doa dan perayaan liturgi, tetapi juga harus diwujudkan dalam keberanian menyatakan kebenaran serta menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan bersama.
Semangat menghayati iman secara nyata itu selaras dengan pelaksanaan Lokakarya Musik Liturgi Inkulturasi. Melalui kegiatan tersebut, kekayaan budaya Sumba diolah menjadi sarana untuk membantu umat berdoa, merayakan iman, dan memuliakan Tuhan.
Lagu-lagu Ordinarium yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti sebagai karya lokakarya, tetapi terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada umat. Dengan demikian, musik liturgi sungguh menjadi ungkapan iman yang tumbuh dari kebudayaan dan kehidupan masyarakat setempat.

