32.5 C
Sumba
Wednesday, May 27, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

47 Keluarga di Ande Ate Buka Rumah untuk Seminaris Sinar Buana

Must read

ANDE ATE, Gema Kawula — Sebanyak 47 kepala keluarga di Paroki Santo Paulus Ande Ate, Kodi, membuka rumah mereka untuk menerima para seminaris dan peserta kegiatan Week End Seminari Sinar Buana Weetebula yang akan berlangsung pada 23–24 Mei 2026. Di tengah keterbatasan fasilitas, umat memilih menyiapkan ruang di rumah-rumah sederhana mereka agar para peserta dapat tinggal bersama keluarga umat selama kegiatan berlangsung.

Persiapan kegiatan itu dimatangkan melalui rapat pembentukan panitia inti di Pastoran Ande Ate, Jumat (15/5/2026). Dalam rapat tersebut, umat membahas pembagian rumah penginapan, susunan kegiatan, hingga teknis penyambutan peserta yang datang dari Seminari Sinar Buana Weetebula.

Kegiatan Week End Seminari dipersiapkan sebagai ruang pembinaan iman dan promosi panggilan bagi kaum muda. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana mempererat hubungan antara seminari dan umat paroki, sekaligus membantu anak-anak dan remaja mengenal lebih dekat kehidupan calon imam dan pelayanan Gereja.

Paroki Santo Paulus Ande Ate yang berada di wilayah Dekenat Kodi, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, selama ini dikenal aktif mengembangkan pembinaan kaum muda serta pelayanan kategorial di tingkat stasi maupun paroki.

Dalam rapat itu, umat sepakat membentuk panitia inti untuk memperlancar seluruh rangkaian kegiatan. Kristina Tena dipercaya sebagai ketua panitia, didampingi Agustinus Mete sebagai wakil ketua. Posisi sekretaris dipercayakan kepada Adrianus Yendri Aryanto Bayo, sedangkan bendahara dijabat Anjelina Stefani Bayo.

Ketua panitia Kristina Tena mengatakan keterlibatan umat menjadi kunci utama agar kegiatan berjalan baik.

“Harus ada panitia kecil supaya semua bisa berjalan baik. Kita bergerak bersama agar persiapan ini tidak berat di satu orang saja,” ujarnya.

Ia berharap seluruh umat terlibat aktif agar kegiatan tersebut berjalan lancar dan memberi pengalaman iman yang berkesan bagi para peserta.

Pastor Paroki RD Stefanus Tamu Ama mengajak umat melihat kegiatan tersebut bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bagian dari perhatian Gereja terhadap pembinaan panggilan kaum muda.

“Biasanya anak-anak hanya melihat pastor saat misa. Sekarang mereka bisa tinggal dekat seminaris, makan bersama, dan bercerita bersama,” kata RD Stefanus.

Menurut dia, tinggal bersama keluarga umat menjadi cara Gereja membangun kedekatan antara calon imam dan kehidupan umat sehari-hari.

“Kita ingin anak-anak melihat bahwa Gereja juga membutuhkan generasi muda yang siap melayani. Kalau anak-anak mulai berani bermimpi menjadi imam atau biarawan dari kegiatan ini, itu sudah menjadi sukacita besar bagi Gereja,” ujarnya.

Kegiatan tersebut direncanakan melibatkan sekitar 135 peserta yang terdiri atas 115 siswa, enam imam pendamping, tiga frater, dua suster, dan sembilan guru.

Peserta dijadwalkan tiba sekitar pukul 14.00 WITA dan langsung dibagi ke rumah-rumah umat untuk beristirahat sekaligus mempersiapkan penampilan pentas seni. Pentas seni dijadwalkan berlangsung mulai pukul 18.30 WITA hingga selesai.

Pada hari berikutnya, kegiatan dilanjutkan dengan perayaan misa, pembinaan SEKAMI dan Taruk, serta olahraga bersama pada pukul 15.00 WITA. Seluruh peserta direncanakan kembali pada pukul 16.30 WITA.

Selain menyusun jadwal kegiatan, rapat juga membahas pembagian seksi kerja, mulai dari liturgi, acara, konsumsi, olahraga, perlengkapan, dekorasi, hingga seksi penginapan dan koordinasi keluarga.

Sistem tinggal bersama keluarga umat menjadi perhatian utama karena para peserta akan menetap di rumah-rumah warga selama kegiatan berlangsung. Cara itu dipilih agar peserta dapat merasakan kehidupan umat secara langsung sekaligus membangun kedekatan dengan keluarga-keluarga di paroki.

Sejumlah keluarga mulai menyiapkan tikar, kamar tamu, dan makanan sederhana khas kampung untuk menyambut para peserta. Keterbatasan fasilitas penginapan tidak menyurutkan semangat umat untuk terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Kami senang karena anak-anak bisa mengenal kehidupan seminari lebih dekat. Ini juga menjadi sukacita bagi keluarga-keluarga umat karena baru kali ini kegiatan seperti ini terjadi,” kata Emeliana Tanggu Bore, umat yang bersedia menerima tiga peserta di rumahnya.

Panitia juga mulai menginventarisasi kebutuhan perlengkapan serta menyusun estimasi biaya kegiatan. Seluruh persiapan ditargetkan bergerak aktif dalam sepekan ke depan.

Menjelang malam, rapat di ruang pastoran itu berakhir. Namun bagi umat Ande Ate, persiapan baru saja dimulai—dari rumah-rumah sederhana yang dibuka untuk para seminaris yang datang dari jauh, dengan harapan benih-benih panggilan baru terus tumbuh di tanah Sumba.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article