28.3 C
Sumba
Tuesday, October 13, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

EMPAT IMAM REDEMPTORIS DITAHBISKAN DI WEETEBULA, DIUTUS MENJADI GEMBALA YANG RENDAH HATI

Must read

WEETEBULA, GEMA KAWULA — Gereja Katolik di Pulau Sumba kembali menerima anugerah panggilan imamat. Empat diakon Kongregasi Redemptoris Indonesia ditahbiskan menjadi imam dalam Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Roh Kudus Weetebula, Rabu, 16 September 2026. Perayaan tersebut dipimpin oleh Mgr. Dr. Edmund Woga, CSsR, Uskup Keuskupan Weetebula.

Keempat diakon yang menerima tahbisan imamat ialah D. Bartolomeus Rowa Sogen, CSsR; D. Juliant Pedro Claudio, CSsR; D. George Glinca Jung Tena, CSsR; dan D. Chrispinus Erwin Kellen, CSsR.

Perayaan tahbisan berlangsung dalam suasana hikmat, dan dihadiri segenap keluarga imam baru, para imam yang berkarya di seluruh Pulau Sumba, biarawan dan biarawati, sahabat kenalan keempat diakon, serta umat dari berbagai paroki. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa panggilan imamat tidak pernah lahir dan bertumbuh secara individual, melainkan menjadi bagian dari perjalanan iman keluarga dan komunitas Gereja.

Hadir pula mewakili Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya, Sekretaris Daerah, Drs. Edmundus N. Nau. Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan selamat dan proficiat atas tahbisan keempat imam baru.

“Atas nama pemerintah daerah dan masyarakat, kami ucapkan selamat dan proficiat bagi keempat imam baru,” ungkapnya.

Menurutnya, bertambahnya imam menjadi sebuah anugerah sekaligus kekuatan bagi kehidupan umat dan masyarakat di Kabupaten Sumba Barat Daya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kehadiran imam tidak hanya memiliki makna bagi kehidupan internal Gereja, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

P.Chrispinus Erwin Kelalen, CSsR, yang akrab disapa P. Erwin, mewakili para imam baru dalam sambutannya menyampaikan refleksi mengenai makna tahbisan yang mereka terima. Baginya, pusat perayaan bukanlah pribadi para imam baru, melainkan kasih Allah yang memanggil manusia yang sederhana dan rapuh untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya.

“Hari ini pertama-tama bukan tentang kami yang ditahbiskan. Tetapi tentang kasih Tuhan yang berkenan memanggil dan memilih kami, orang-orang sederhana dan rapuh, untuk ambil bagian dalam karya-Nya,” katanya.

P.Erwin juga menegaskan bahwa imamat bukanlah penghargaan atas keberhasilan manusia mencapai kesempurnaan. Imamat merupakan rahmat yang dipercayakan Allah kepada manusia untuk dipakai dalam pelayanan.

“Hari ini kami belajar bahwa imamat bukanlah hadiah karena kami berjuang menjadi sempurna. Imamat adalah rahmat Tuhan yang berkenan memakai kami,” lanjutnya.

Karena itu, di hadapan umat yang hadir, P. Erwin menyampaikan satu permohonan sederhana sekaligus mendalam: agar umat terus mendoakan mereka dalam menjalankan tugas perutusan sebagai imam.

“Bapa-Ibu umat semuanya, terima kasih. Dan kami hanya mohon satu hal: doakan kami agar menjadi gembala yang rendah hati,” ujarnya.

Sementara itu, Provinsial Redemptoris Indonesia, P. Yakobus Umbu Warata, CSsR, atau yang akrab disapa P. Jack, menyampaikan proficiat kepada keempat imam baru sekaligus penghargaan kepada keluarga mereka.

Ia menyampaikan terima kasih kepada para orang tua yang telah membesarkan, mendidik, serta menanamkan nilai-nilai kekatolikan sejak dini hingga akhirnya mempersembahkan putra terbaik mereka bagi Kongregasi dan Gereja.

Dalam sambutannya, P. Jack juga mengingatkan kembali semangat bapa pendiri Kongregasi Redemptoris, St. Alfonsus yang melalui tulisannya menegaskan kembali identitas dasar seorang imam sebagai pribadi yang hidup dalam doa dan hadir bagi mereka yang membutuhkan keselamatan.

“Tugas seorang imam adalah suara yang terus berdoa dan mencari mereka yang hilang. Imam tidak boleh menjadi imam untuk dirinya sendiri,” tegasnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa tahbisan bukanlah titik akhir dari sebuah perjalanan pendidikan dan pembinaan, melainkan awal dari perutusan. Seorang imam dipanggil untuk keluar dari dirinya, hadir di tengah umat, dan membawa mereka semakin dekat kepada Kristus.

Pada akhir sambutannya, P. Jack mengumumkan secara resmi tempat perutusan bagi keempat imam baru. Keempatnya akan menjalankan pelayanan sebagai pastor rekan di sejumlah paroki di Pulau Sumba.

P.Bartolomeus Rowa Sogen, CSsR, diutus sebagai pastor rekan di Paroki St. Maria Assumpta Homba Karipit.

P.Juliant Pedro Claudio, CSsR, diutus sebagai pastor rekan di Paroki St. Dominikus Karuni.

P. George Glinca Jung Tena, CSsR, diutus sebagai pastor rekan di Paroki St. Mikael Elopada.

Sementara P. Chrispinus Erwin Kelalen, CSsR, diutus sebagai pastor rekan di Paroki Sang Penebus Wara, Waingapu.

Keempat perutusan tersebut menandai dimulainya babak baru kehidupan para imam Redemptoris yang baru ditahbiskan. Dari altar tahbisan di Katedral Roh Kudus Weetebula, mereka kini diutus menuju umat dan medan pelayanan masing-masing.

Tahbisan ini pada akhirnya bukan hanya tentang bertambahnya jumlah imam, tetapi tentang bertumbuhnya kesediaan untuk melayani. Di tengah kebutuhan umat akan gembala yang hadir, dekat, dan rendah hati, keempat imam baru Redemptoris itu membawa satu tugas yang sama: menjadikan hidup mereka sebagai persembahan bagi Kristus dan Gereja.

Dari Weetebula, mereka diutus untuk berjalan bersama umat—berdoa, melayani, mencari yang tersesat, dan menghadirkan kasih Allah di tengah kehidupan nyata.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article