ANDE ATE, Gema Kawula — Paroki St. Paulus Ande Ate memulai gerakan pendampingan pastoral bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Agama UNIKA Weetebula melalui rekoleksi perdana pada Sabtu (28/3/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 19 orang mahasiswa asal paroki tersebut yang tersebar di 12 stasi.
Pertemuan ini diawali dengan sapaan dan rekoleksi oleh Pastor Paroki, Rm. Stef Tamu Ama, Pr. Turut hadir Ketua Program Studi, Rm. Mikael Sene, Pr., yang memberikan penguatan atas inisiatif tersebut.
Gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa mahasiswa prodi agama merupakan calon tenaga pastoral yang sedang dipersiapkan melalui pendidikan formal. Mereka diharapkan menjadi katekis dan mitra imam dalam pelayanan umat, baik di lembaga pendidikan maupun dalam berbagai karya pastoral di paroki.
Rm. Stef Tamu Ama menegaskan, pendampingan rohani yang teratur menjadi kebutuhan mendesak. Pengalaman mendampingi frater di Seminari Tinggi serta mahasiswa dalam komunitas rohani menunjukkan bahwa pembinaan tidak cukup hanya pada aspek akademik, tetapi juga harus menyentuh kedalaman hidup iman.
Ia juga menyoroti realitas kehidupan mahasiswa yang beragam. Di satu sisi, banyak yang memiliki semangat dan kehendak baik. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang menghadapi tantangan dalam menjaga pola hidup yang selaras dengan panggilan dan bidang studi. Karena itu, pendampingan diarahkan tidak hanya untuk meneguhkan, tetapi juga meluruskan arah hidup yang menyimpang.
Harapan umat terhadap mahasiswa prodi agama di stasi-stasi juga dinilai semakin tinggi. Kehadiran mereka diharapkan memberi kontribusi nyata dalam kehidupan menggereja dan memperkuat gerakan pelayanan umat. Situasi ini mendorong pentingnya pembinaan pastoral yang berkelanjutan melalui rekoleksi dan bentuk pendampingan lainnya.
Rekoleksi perdana ini sekaligus menjadi bagian dari persiapan menyambut Paskah dengan mengangkat tema “Standar Hidup Bahagia”, yang direfleksikan dari Sabda Bahagia dalam Injil Matius 5:1–12.
Dalam refleksi tersebut, mahasiswa diajak menilai kembali orientasi hidup mereka: apakah kebahagiaan diukur dari kekayaan, kesuksesan, popularitas, dan kenyamanan, atau dari nilai-nilai Injil yang ditawarkan Kristus.
Yesus, dalam Sabda di Bukit, menghadirkan paradigma kebahagiaan yang berbeda—bahkan paradoksal—yakni melalui kemiskinan, penderitaan, pengorbanan, dan pengosongan diri. Jalan salib dipahami sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati yang bernilai kekal.
Melalui permenungan ini, mahasiswa diajak bercermin dalam keheningan hati untuk mengukur kembali semangat studi dan praktik hidup sehari-hari. Nilai-nilai Injil diharapkan membingkai perilaku sekaligus mendorong keterlibatan aktif dalam pelayanan umat, khususnya di stasi-stasi asal.
Rm. Mikael Sene menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan pelayanan pastoral paroki. Menurutnya, kampus membekali mahasiswa dengan ilmu, sementara paroki menjadi ruang konkret untuk menghidupi panggilan tersebut.
Dari dinamika pertemuan, disepakati bahwa pendampingan ini akan dilanjutkan secara rutin setiap bulan, menyesuaikan dengan jadwal kegiatan mahasiswa.
Kegiatan perdana ditutup dengan foto bersama dan santap bersama di Pastoran Ande Ate, menandai awal gerakan pembinaan yang diharapkan memberi dampak nyata bagi kehidupan Gereja lokal.

