WEETEBULA, GEMA KAWULA— Komisi Liturgi Keuskupan Weetebula bekerja sama dengan Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menggelar Lokakarya Nyanyian Inkulturatif Liturgis Sumba di Rumah Unio Keuskupan Weetebula, Rabu–Minggu, 2–6 September 2026. Lokakarya yang diikuti oleh 22 peserta dari berbagai paroki ini diharapkan menghasilkan sejumlah paket lagu ordinarium baru yang sesuai dengan ketentuan liturgi sekaligus berciri khas budaya Sumba.
Hadir mendampingi peserta, RD. Fransiskus Yance Sengga, Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI, dan Rm. Harry Hermanus Singkoh, MSC, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng sekaligus Direktur Musica Sacra Manado.
Rangkaian kegiatan pada hari pertama diawali dengan Perayaan Ekaristi. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan acara seremonial pembukaan, makan malam bersama, serta pengantar mengenai keseluruhan proses lokakarya oleh Rm. Harry Hermanus Singkoh, MSC.
Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Weetebula, Rm. Paskalis Kristianus Loy, Pr., dalam sambutannya mengatakan bahwa lokakarya tersebut telah dirancang sejak 2024 bersama Romo. Riston, OSC. Namun, pelaksanaannya beberapa kali tertunda, antara lain karena kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia dan berbagai kendala lainnya.
“Lokakarya ini sebenarnya sudah kami rencanakan sejak 2024 bersama Romo Riston. Namun, pelaksanaannya beberapa kali tertunda karena kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia dan berbagai kendala lainnya,” kata RD. Paskalis Kristianus Loy.
Karena itu, RD. Paskalis menyambut pelaksanaan lokakarya tahun ini dengan penuh sukacita. Ia meyakini bahwa kegiatan tersebut dapat terlaksana berkat penyelenggaraan Allah yang menggerakkan Komisi Liturgi KWI untuk mendukung proses pengembangan musik liturgi di Keuskupan Weetebula.
“Kita bersyukur karena akhirnya lokakarya ini dapat terlaksana. Kami percaya bahwa semua ini terjadi berkat penyelenggaraan Tuhan, yang juga menggerakkan Komisi Liturgi KWI untuk bekerja sama dengan Keuskupan Weetebula,” ujarnya.
Gagasan menyelenggarakan lokakarya tersebut berawal dari rekomendasi pertemuan musik liturgi pada 2023. Dalam pertemuan itu, para peserta meninjau kembali sejumlah lagu dalam buku Madah Bakti dan menemukan bahwa banyak lagu ordinarium perlu disesuaikan kembali dengan ketentuan liturgi.
Keuskupan Weetebula sebelumnya telah merencanakan penyusunan sebuah buku lagu liturgi berukuran kecil. Namun, rencana tersebut belum dapat diwujudkan karena jumlah lagu yang tersedia masih terbatas.
Sejumlah lagu ordinarium, seperti Kudus dan Anak Domba Allah, yang selama ini digunakan merupakan hasil lokakarya sekitar tahun 2000 bersama PML. Lokakarya tersebut hanya menghasilkan sekitar dua paket lagu ordinarium.
Melalui lokakarya ini, para peserta didorong untuk menggali kekayaan musik dan budaya Sumba serta mengolahnya menjadi nyanyian yang sesuai dengan jiwa dan kaidah liturgi Gereja Katolik.
Lagu-lagu yang dihasilkan dalam lokakarya tidak akan langsung digunakan secara permanen. Semuanya akan melalui masa uji coba sekurang-kurangnya satu tahun untuk melihat kesesuaiannya dengan perayaan liturgi dan penerimaannya di tengah umat.
Setelah melewati masa uji coba dan evaluasi, lagu-lagu tersebut dapat dikembangkan serta dihimpun bersama nyanyian liturgi lainnya dalam bentuk buku.
RD. Paskalis juga menjelaskan bahwa kegiatan musik liturgi selanjutnya akan dikelola oleh pengurus musik liturgi di bawah Komisi Liturgi Keuskupan Weetebula. Tim tersebut dikoordinasikan oleh RD. Yustinus Guru Kedi, bersama Pak Hendro, para imam, dan anggota lainnya.
Pada akhir sambutannya, Rm. Paskalis menyampaikan selamat datang kepada RD. Fransiskus Yance Sengga dan Rm. Harry Hermanus Singkoh, MSC.
“Selamat datang kepada Rm. Yance Sengga dan Rm. Harry Hermanus Singkoh di Keuskupan Weetebula. Kami berharap kehadiran dan pendampingan kedua narasumber membantu kami meninjau serta menyempurnakan lagu-lagu ordinarium yang akan dihasilkan dalam lokakarya ini,” katanya.
Acara penyambutan ditandai dengan penyerahan cendera mata kepada kedua narasumber. Lokakarya ini menjadi langkah penting bagi Keuskupan Weetebula dalam menghadirkan nyanyian liturgis yang setia pada ketentuan Gereja sekaligus bertumbuh dari kekayaan budaya dan kehidupan iman umat di Keuskupan Weetebula.

