32.5 C
Sumba
Wednesday, May 27, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

Dari Podcast ke Aksi: OMK Dipanggil Selamatkan Pendidikan Sumba

Must read

WEETEBULA, Gema Kawula — Rendahnya literasi, akses pendidikan yang timpang, dan tingginya angka putus sekolah di Sumba bukan lagi sekadar statistik. Ini krisis. Hal itu mengemuka dalam Vox Mudi Podcast yang tayang Rabu (22/4/2026), menghadirkan Frans Seda dan Roswita Asti Kulla. Podcast Pra Sumba Youth Day IV yang diinisiasi Rm. Jegho itu mengajak Orang Muda Katolik (OMK) untuk bergerak.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pra SYD IV yang akan berlangsung pada Juni mendatang. Podcast diposisikan sebagai ruang refleksi sekaligus ajakan konkret bagi OMK untuk terlibat dalam menjawab persoalan sosial.

Dalam wawancara melalui pesan WhatsApp, Rm. Jegho mengatakan podcast dipilih karena dekat dengan kaum muda. “Ini bagian dari proses Pra SYD IV. Tema yang diangkat adalah keprihatinan Gereja terhadap persoalan OMK—pendidikan, kesehatan mental, migrasi, hingga perkawinan,” ujarnya.

Dalam diskusi, Pater Frans Seda menegaskan persoalan pendidikan di Sumba bersifat struktural dan kultural. “Pendidikan belum menjadi prioritas di banyak tempat. Ini soal cara pandang yang harus dibenahi,” katanya.

Ia juga menyoroti lemahnya manajemen pendidikan dan keterbatasan fasilitas di wilayah 3T yang berkontribusi pada tingginya angka putus sekolah. Namun, yang paling mendesak adalah krisis literasi. “Masih banyak anak belum lancar membaca, bahkan sampai jenjang lebih tinggi. Ini kenyataan di lapangan,” ujarnya.

Pater Frans menekankan pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama, termasuk OMK dan Gereja. “Paroki bisa menjadi pusat gerakan literasi—melalui taman baca, kelompok belajar, atau ruang diskusi,” katanya.

Ia menambahkan, gerakan itu harus dimulai dari diri sendiri. “OMK perlu membangun literasi diri—membiasakan membaca dan berpikir kritis.”

Sementara itu, Roswita Asti Kulla menawarkan pendekatan pendidikan berbasis konteks lokal melalui gerakan English Goes to Kampung.

“Pendidikan harus dekat dengan dunia anak-anak. Tidak bisa dipaksakan dari luar tanpa memahami konteks mereka,” ujarnya.

Ia menilai keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak. “Mulai dari apa yang ada. Yang penting anak-anak belajar dan percaya diri.”

Asti juga menekankan pentingnya kepekaan terhadap persoalan sosial. “Keresahan itu tanda bahwa kita dipanggil untuk bertindak,” katanya.

Ia mengingatkan OMK untuk tidak merendahkan diri. “Potensi kita besar, kalau mau diolah dengan sungguh-sungguh.” Menurut dia, perubahan dimulai dari hal kecil yang dilakukan secara konsisten.

Melalui podcast ini, Gereja berharap OMK tidak hanya menjadi pendengar, tetapi pelaku perubahan.

Rm. Jegho mengatakan tujuan utama kegiatan ini adalah membangun kesadaran dan mendorong keterlibatan nyata kaum muda dalam dunia pendidikan. “Harapannya, OMK lebih aktif mengambil peran untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Sumba,” ujarnya.

Di akhir diskusi, Asti merangkum ajakan itu dalam tiga langkah sederhana: “Hadir, mulai, dan ulangi terus.”

Dengan langkah kecil yang konsisten, OMK diharapkan menjadi “misionaris pengharapan” yang menggerakkan perubahan dari lingkungan terdekat.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article