WAIKABUBAK, Gema Kawula — Dekenat Waikabubak mulai membangun arah baru pendampingan Orang Muda Katolik (OMK). Melalui kegiatan kick-off dan retret bersama komunitas Domus Cordis Indonesia, Gereja menegaskan bahwa kaum muda tidak cukup hanya dikumpulkan dalam kegiatan sesaat, tetapi perlu didampingi secara konsisten dan berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak, Kamis (7/5/2026), itu diikuti 49 peserta yang terdiri atas 10 imam dan 39 pendamping OMK dari enam paroki serta satu kuasi paroki se-Dekenat Waikabubak.
Sejak pagi, suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Sesi ice breaking yang dipandu Angela Cristina membuka perjumpaan dengan akrab, dilanjutkan sambutan Sekretaris Dekenat, RD Jeremias A. Nasuli, serta perkenalan peserta dari masing-masing paroki.
Retret tersebut dikemas dalam empat sesi utama yang menyoroti tantangan sekaligus arah baru pendampingan kaum muda di Gereja.
Pada sesi pertama, Christian Pradana mengangkat tema “Mengapa Aku Berada di Sini?”. Ia menyoroti kenyataan bahwa banyak OMK belum memperoleh pendampingan yang sungguh dekat dan berkesinambungan. Menurut dia, kaum muda membutuhkan kehadiran pendamping yang berjalan bersama mereka, bukan sekadar hadir saat kegiatan berlangsung.
Christian kemudian mengangkat kisah Venerabilis Jan Tyranowski, seorang awam asal Polandia yang tekun mendampingi kaum muda di tengah situasi sulit Gereja pada masanya.
“Dari kesetiaan Jan Tyranowski mendampingi OMK, lahirlah sosok besar Santo Yohanes Paulus II. Tyranowski adalah guru di balik panggilan Paus tersebut,” ujar Christian.
Pada sesi kedua, Angela Cristina membawakan materi bertajuk “Jadi Pendamping Itu Seperti Apa?”. Ia menjelaskan bahwa pendamping OMK dipanggil untuk meneladani cara Kristus memuridkan, yakni menjadi teladan iman, pelayan relasi, dan pengajar iman.
Pendalaman spiritualitas pendampingan berlanjut pada sesi ketiga. Christian menegaskan bahwa pusat dari seluruh proses pemuridan bukanlah pendamping, melainkan Kristus sendiri.
“Yang terpenting bukan siapa saya, tetapi siapa Yesus,” katanya.
Suasana retret mencapai puncaknya ketika para imam memberikan penumpangan tangan dan doa Roh Kudus kepada seluruh peserta. Momen itu berlangsung hening dan menyentuh, menjadi simbol penguatan bagi para pendamping yang akan kembali melayani OMK di paroki masing-masing.
Tak berhenti pada refleksi dan penguatan rohani, sesi keempat menghadirkan Robertus Kristianto yang membimbing workshop pengembangan komunitas basis. Para peserta diajak mendiskusikan pola pendampingan yang lebih terarah melalui pertemuan rutin yang terstruktur, tetapi tetap menyentuh kebutuhan nyata kaum muda.
Di sela kegiatan, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Weetebula, RD Jefri Ghoba, Pr, juga menyampaikan perkembangan persiapan Sumba Youth Day IV. Ia menegaskan bahwa kerja sama dengan Domus Cordis menjadi langkah strategis agar SYD IV tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan.
“SYD harus menjadi titik awal, bukan akhir. Pendampingan setelah kegiatan SYD harus tetap berlanjut di paroki-paroki,” ujar Romo Jefri.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto dalam suasana penuh persaudaraan. Para peserta pulang membawa semangat baru untuk menjadi pendamping yang hadir, mendengarkan, dan berjalan bersama kaum muda—membangun Gereja yang semakin dekat dengan OMK di tanah Sumba.

