WEETEBULA, Gema Kawula — Empat frater Kongregasi Redemptoris ditahbiskan menjadi diakon oleh Uskup Edmund Woga, CSsR, dalam perayaan Ekaristi di Katedral Roh Kudus Weetebula, Rabu (22/4/2025). Tahbisan yang berlangsung khidmat dan dihadiri ratusan umat itu menjadi penanda langkah baru mereka menuju imamat.
Keempat frater tersebut adalah Fr. Bartolomeus Rowa Sogen, CSsR; Fr. Crispinus Erwin Kellen, CSsR; Fr. George Glinca Juang Tena, CSsR; dan Fr. Juliant Pedro Claudio, CSsR. Melalui ritus pentahbisan, mereka resmi memasuki tahap pelayanan sebagai diakon dalam Gereja.
Perayaan dipenuhi imam, biarawan, dan biarawati dari berbagai paroki, lembaga, dan komunitas. Suasana haru tak terelakkan, terutama saat ritus tahbisan berlangsung—menyiratkan perjalanan panjang panggilan yang kini mencapai tahap baru.
Dalam homilinya, Uskup Edmund menegaskan bahwa diakon bukanlah jabatan, melainkan panggilan untuk melayani. Sejak awal Gereja, katanya, diakon dihadirkan untuk memastikan pelayanan berjalan adil, terutama bagi mereka yang kecil dan terpinggirkan.
“Pelayanan bukan soal posisi, tetapi kesiapsediaan untuk mengutamakan orang lain. Seorang diakon harus hidup dalam kerendahan hati dan menjadi saksi, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan,” tegasnya.
Uskup juga mengingatkan bahwa panggilan adalah inisiatif Allah. Karena itu, tidak ada alasan untuk mundur dengan dalih keterbatasan. “Kalau Tuhan memanggil, Tuhan juga menyertai,” ujarnya.
Dalam sambutan mewakili teman-temannya daikon Pedro mengungkapkan secara jujur tentang perjalanan panggilan mereka. Jalan menuju tahbisan, katanya, bukan tanpa tantangan—dipenuhi jatuh bangun, sukacita sekaligus “pahit getir”, serta pergulatan dengan keterbatasan diri.
“Kami adalah orang-orang yang rapuh, berasal dari keluarga yang tidak sempurna. Namun cinta Tuhan bekerja dengan cara yang mengejutkan, hingga kami sampai di titik ini,” ungkapnya.
Tema tahbisan yang diambil dari Injil Lukas 5:10—“Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjadi penjala manusia”—menjadi dasar spiritual yang meneguhkan langkah mereka dalam pelayanan.
Sementara itu, Provinsial Redemptoris Indonesia Yakobus Umbu Warata, CSsR, menyoroti dimensi manusiawi dari perayaan tersebut. Ia mengungkapkan momen haru ketika diakon Pedro tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan sambutan.
“Itu bukan sekadar emosi pribadi. Itu air mata dari perjalanan panjang—air mata doa, lutut yang lelah, dan perjuangan yang tidak selalu terlihat, baik dari para diakon maupun orang tua mereka,” katanya.
Mengutip pesan Uskup saat penyerahan Kitab Suci, ia menegaskan arah hidup para diakon: “Terimalah Injil Tuhan. Apa yang kamu baca, kamu imani. Apa yang kamu imani, kamu ajarkan. Dan apa yang kamu ajarkan, kamu hidupi.” Pesan itu, katanya, menjadi garis tegas bahwa pelayanan adalah kesaksian hidup, bukan sekadar kemampuan berbicara.
Usai tahbisan, para diakon diutus ke berbagai tempat pelayanan: diakon Bartolomeus Rowa Sogen ke Paroki Santa Maria Homba Karipit; diakon Crispinus Erwin Kellen ke Paroki Sang Penebus Wara; diakon George Glinca Juang Tena ke Keuskupan Agung Ende; dan diakon Juliant Pedro Claudio ke Keuskupan Maumere.
Pengutusan ini menegaskan bahwa tahbisan bukanlah akhir, melainkan awal dari pelayanan nyata di tengah umat. Di hadapan Gereja yang penuh harapan, para diakon diutus bukan sebagai pribadi yang sempurna, tetapi sebagai pelayan yang bersedia memberi diri.

