26.9 C
Sumba
Tuesday, April 7, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

Nunsius Apostolik Resmikan Gereja Maria Bunda Selalu Menolong Kambajawa dalam Perayaan Ekaristi Penuh Sukacita

Must read

Frater Chiko Ate
Frater Chiko Atehttp://keuskupanweetebula.org
Sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Komsos Weetebula

Waingapu, Gema Kawula — Ribuan umat Katolik memadati halaman Paroki Maria Bunda Selalu Menolong (MBSM) Kambajawa, Waingapu, Sumba Timur, Selasa, 7 Oktober 2025. Mereka datang dari berbagai penjuru untuk mengikuti Perayaan Ekaristi Kudus pemberkatan dan dedikasi gedung Gereja serta Altar baru, yang dipimpin langsung oleh Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo.

Di bawah langit cerah Waingapu, suasana haru dan syukur terasa kuat. Sejak pagi, umat berbondong-bondong menuju kompleks gereja yang berdiri megah di puncak bukit Kambajawa—bangunan yang menjadi simbol perjalanan panjang iman dan kerja keras umat selama sepuluh tahun terakhir.

Tepat pukul 09.00 WITA, misa dimulai. Perarakan para imam, biarawan, dan biarawati mengalun khidmat menuju pintu utama gereja. Acara dibuka dengan laporan singkat panitia pembangunan, disusul pengguntingan pita dan penandatanganan batu nama paroki oleh Nunsius Apostolik. Setelah itu, rombongan melangkah masuk ke gedung gereja baru untuk memulai Perayaan Ekaristi Kudus.

Upacara dedikasi berlangsung khidmat. Meski ribuan umat memadati area hingga ke luar gedung, semangat mereka tak surut. Para tokoh lintas agama, pejabat pemerintah, dan masyarakat umum turut hadir. Pemandangan itu menjadi simbol nyata kerukunan antarumat beragama yang hidup di Sumba Timur.

Dalam homilinya, Mgr. Piero Pioppo menekankan makna spiritual di balik peresmian gereja baru ini.

“Hari ini kita berkumpul sebagai keluarga Allah untuk mempersembahkan gedung gereja yang indah ini kepada Bunda Maria yang selalu menolong,” ujarnya.

Ia menambahkan, keindahan gereja ini selaras dengan budaya setempat dan mencerminkan kesatuan iman serta jati diri bangsa.

“Melalui baptisan, kita semua adalah bangunan Allah. Karena itu, kita harus menjaga hidup tetap suci dan terbuka terhadap sesama. Seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia,” tegasnya.

Nunsius juga mengajak umat untuk mencintai dan merawat gereja baru ini agar menjadi rumah doa bagi semua orang.

“Setiap orang yang datang ke tempat ini semoga menemukan kasih Allah dan berkat-Nya,” katanya.

Setelah misa, suasana syukur berubah menjadi pesta iman. Umat bertepuk tangan riuh ketika Nunsius memberikan berkat penutup. Rasa haru dan bangga tampak di wajah umat yang berdesakan di halaman gereja.

Acara berlanjut dengan foto bersama di depan altar yang baru didedikasikan. Mgr. Pioppo bersama Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR, para imam konselebran, tokoh agama, dan pejabat pemerintah pusat maupun daerah, tampak bersahabat dalam suasana penuh kehangatan.

Dalam sambutannya, Pastor Paroki Kambajawa, RD. Yakobus Lodo Mema, mengungkapkan bahwa pembangunan gereja ini adalah buah iman dan kebersamaan panjang umat.

“Setiap batu dan tiang menyimpan kisah cinta dan pengorbanan banyak pihak. Karena itu, sukacita hari ini bukan hanya milik Paroki Kambajawa, tetapi juga milik semua orang yang berkehendak baik,” ujarnya.

Ia mengajak umat menjadikan momentum ini sebagai awal baru dalam perjalanan iman.

“Setelah batu dan semen tersusun, kini saatnya kita membangun hidup bersama dalam kasih persaudaraan. Setelah altar didedikasikan, biarlah altar hati kita pun senantiasa murni bagi Tuhan dan sesama,” katanya.

Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, ST., M.T., menyampaikan apresiasi kepada seluruh umat dan panitia yang telah menuntaskan pembangunan gereja yang disebutnya “megah dan representatif.”

“Gereja ini bukan sekadar bangunan, melainkan simbol kebersamaan dan persatuan umat beragama di Sumba Timur,” ujarnya.

Usai misa, acara dilanjutkan dengan penyerahan cenderamata kepada para donatur, perwakilan pemerintah, serta kedua uskup. Rangkaian perayaan ditutup dengan doa santap siang bersama di halaman gereja.

Perayaan di Kambajawa menjadi salah satu momen terakhir Mgr. Piero Pioppo di Indonesia, sebelum ia memulai tugas baru sebagai Nunsius Apostolik untuk Spanyol dan Andorra. Kehadirannya di Sumba Timur meninggalkan pesan mendalam tentang perdamaian, kesatuan, dan iman yang berakar pada budaya.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article