28.3 C
Sumba
Tuesday, October 13, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

SABTU PEKAN BIASA XXII – Warna Liturgi: Hijau

Must read

SABTU PEKAN BIASA XXII
Hari Sabtu Imam
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I – 1 Korintus 4:6b-15

Kami ini lapar, haus dan telanjang.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara, dari aku dan Apolos hendaknya kalian belajar, apa artinya ungkapan: “Jangan melampaui yang ada tertulis.” Jangan ada di antara kalian yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu lebih dari yang lain. Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Adakah di antara milikmu yang bukan pemberian? Dan jika itu memang pemberian, mengapa engkau memegahkan diri, seolah-olah itu bukan pemberian? Kalian telah kenyang, kalian telah kaya, dan tanpa kami kalian telah memerintah; alangkah baiknya kalau benar demikian, yakni kalau kalian menjadi raja, sehingga kami pun turut menjadi raja dengan kalian.

Menurut pendapatku, Allah memberikan kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati. Sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami ini bodoh oleh karena Kristus, tetapi kalian arif dalam Kristus. Kami ini lemah, tetapi kalian kuat. Kalian mulia, tetapi kami hina. Sampai saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukuli dan hidup mengembara.

Kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki-maki, kami memberkati; kalau kami dianiaya kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi seperti sampah dunia, seperti kotoran dari segala sesuatu, sampai saat ini.

Hal ini kutuliskan bukan untuk membuat kalian malu, melainkan untuk menegur kalian sebagai anak-anakku yang kukasihi. Sebab sekalipun kalian mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kalian tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang telah menjadi bapamu dalam Kristus Yesus, oleh Injil yang kuwartakan kepadamu.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan – Mazmur 145:17-18.19-20.21 – Refren:18a

Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya.

  • Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.
  • Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, Ia mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka. Tuhan menjaga semua orang yang mengasihi-Nya, tetapi semua orang fasik akan dibinasakan-Nya.
  • Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya.

Bait Pengantar Injil – Yohanes 14:6
Akulah jalan, kebenaran dan sumber kehidupan, sabda Tuhan; hanya melalui Aku orang sampai kepada Bapa.

Bacaan Injil – Lukas 6:1-5

Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Pada suatu hari Sabat, Yesus dan murid-murid-Nya berjalan di ladang gandum. Para murid memetik bulir-bulir gandum, menggisarnya dengan tangan, lalu memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”

Maka Yesus menjawab, “Tidakkah kalian baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan para pengikutnya lapar? Ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian. Roti itu dimakannya dan diberikannya kepada para pengikutnya. Padahal roti itu tidak boleh dimakan, kecuali oleh para imam.”

Dan Yesus berkata lagi, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan

Iman yang Membebaskan, Bukan Membanggakan

Dalam kehidupan sehari-hari kita mudah menilai diri dan sesama berdasarkan apa yang tampak: kepandaian, jabatan, keberhasilan, kehormatan, bahkan kesalehan. Ketika merasa memiliki lebih banyak daripada orang lain, kita dapat jatuh dalam kesombongan. Sebaliknya, ketika melihat orang lain tidak bertindak sesuai dengan harapan atau aturan yang kita pegang, kita mudah menghakimi. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita memeriksa kembali cara kita memandang diri sendiri, sesama, dan aturan hidup beriman. Apakah semuanya menumbuhkan kerendahan hati dan kasih, atau justru membuat kita merasa lebih tinggi dan lebih benar daripada orang lain?

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang mulai membanggakan diri. Mereka merasa lebih berhikmat, lebih kuat, dan lebih terhormat daripada yang lain. Karena itu, Paulus bertanya, “Apakah yang engkau miliki, yang tidak engkau terima?” Pertanyaan ini mengajak kita untuk menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian Tuhan: kemampuan, jabatan, keberhasilan, pengetahuan, bahkan kesempatan untuk melayani.

Jika semuanya merupakan pemberian Tuhan, tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi sombong. Kita tidak boleh merasa diri paling berjasa, paling benar, paling suci, atau paling penting. Karunia Tuhan tidak diberikan untuk meninggikan diri, tetapi untuk melayani dan membangun sesama.

Paulus sendiri menunjukkan teladan seorang pelayan yang sejati. Ia rela dianggap hina, mengalami penderitaan, kelaparan, penganiayaan, dan penolakan demi mewartakan Injil. Namun, ia tidak menulis semuanya itu untuk mempermalukan jemaat. Ia berkata, “Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegur kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi.” Paulus menegur dengan kasih seorang bapa. Teguran yang lahir dari kasih tidak bertujuan merendahkan, tetapi membantu seseorang kembali ke jalan yang benar.

Dalam Injil, kita melihat bahaya kedua, yaitu menjadikan aturan sebagai alat untuk menghakimi. Ketika para murid Yesus memetik bulir gandum pada hari Sabat karena lapar, beberapa orang Farisi langsung mempersalahkan mereka. Mereka lebih memperhatikan pelanggaran aturan daripada memperhatikan kebutuhan manusia yang sedang lapar.

Yesus kemudian mengingatkan mereka akan kisah Daud yang mengambil roti sajian untuk dimakan bersama para pengikutnya ketika mereka lapar. Yesus tidak sedang mengajarkan bahwa hukum dan hari Sabat tidak penting. Yesus mengembalikan hukum kepada tujuan yang sebenarnya: membawa manusia kepada kehidupan, keselamatan, dan persekutuan dengan Allah. Aturan agama seharusnya membantu manusia mengalami kasih Tuhan, bukan menjadi beban yang menindas.

Karena itu Yesus berkata, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Artinya, Yesuslah yang menjadi pusat dan ukuran kehidupan beriman. Kita tidak cukup hanya bertanya, “Apakah aturan sudah dilaksanakan?” Kita juga perlu bertanya, “Apakah melalui tindakan ini kasih Tuhan sungguh dirasakan? Apakah orang yang lemah dibantu? Apakah kehidupan manusia dihargai?”

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita memeriksa diri. Mungkin kita rajin berdoa dan aktif dalam pelayanan, tetapi apakah semua itu membuat kita semakin rendah hati? Mungkin kita mengetahui banyak aturan Gereja, tetapi apakah pengetahuan itu membuat kita semakin berbelas kasih? Jangan sampai kita begitu sibuk mempertahankan aturan, tetapi kehilangan manusia yang harus kita kasihi. Jangan sampai kita merasa sedang membela Tuhan, tetapi justru melukai sesama.

Iman sejati tidak membuat kita meninggikan diri, melainkan menyadari bahwa semuanya adalah anugerah. Iman sejati juga tidak membuat kita mudah menghakimi, tetapi menolong kita melihat kebutuhan dan penderitaan orang lain. Hukum tetap penting, tetapi kasih adalah jiwa dari setiap hukum.

Marilah kita memohon agar Tuhan membebaskan kita dari kesombongan rohani dan kekakuan hati. Semoga segala karunia yang kita terima dipakai untuk melayani, setiap aturan yang kita jalankan membawa kehidupan, dan setiap teguran yang kita sampaikan selalu lahir dari kasih. Sebab orang yang sungguh dekat dengan Tuhan bukanlah orang yang paling cepat menghakimi, melainkan orang yang paling siap merendahkan diri, memahami, dan mengasihi. Amin.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article