WEETEBULA, Gema Kawula — Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti Kuria Maria Bunda Allah Tak Bernoda, Weetebula, Rabu pagi (25/3/2026). Sebanyak 75 anggota Legio Maria dari tujuh presidium berkumpul dalam satu perayaan iman: Acies, upacara tahunan yang menjadi momentum pembaruan janji kesetiaan sebagai “tentara Maria” dalam pengabdian kepada Gereja dan pelayanan sehari-hari.
Kegiatan yang mengusung tema “Setialah kepada Kristus Bersama Bunda Maria” ini menjadi momentum penuh rahmat untuk meneguhkan dan memperbarui komitmen pelayanan, sehingga para legioner semakin setia dan bersemangat hadir di tengah kehidupan Gereja dan masyarakat.
Perayaan diawali dengan Ekaristi yang bertepatan dengan Hari Raya Kabar Sukacita, dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Keuskupan Weetebula, Rm. Marselinus Dappa Wole, Pr., didampingi Rm. Evalianus Riba, Pr., dan Rm. Atanasius T. Ndate, Pr. Liturgi berlangsung khidmat, diwarnai ungkapan iman mendalam dari para legioner.
Dalam homilinya, Rm. Marselinus—yang akrab disapa Rm. Selis—menekankan pentingnya ketaatan total sebagai ciri utama seorang legioner. Ia mengajak umat meneladani Bunda Maria yang dengan rendah hati menerima kehendak Allah saat peristiwa Kabar Sukacita.
“Para anggota legioner dipanggil untuk membangun kerendahan hati dan membuka diri terhadap rahmat Allah dalam setiap karya pelayanan,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesatuan sebagai tubuh Kristus, seraya mengutip sikap iman Maria: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
Semangat serupa disampaikan Ketua Dewan Kuria, Maria Goretti Binsasi. Ia menegaskan bahwa Acies menjadi “senjata rohani” bagi para legioner untuk terus belajar dari teladan Maria dalam kesetiaan dan kesiapsediaan melayani.
“Jika Maria yang adalah hamba Tuhan saja berkata ‘ya’, maka kita yang diutus sebagai legioner harus lebih siap lagi melaksanakan tugas pelayanan,” tegasnya.
Di balik suasana sukacita, muncul pula refleksi kritis atas tantangan pelayanan. Imelda Ate, yang akrab disapa Mama Krisna, menyoroti pentingnya konsistensi dalam hidup sebagai legioner.
“Menjadi anggota itu mudah, tetapi yang sulit adalah apakah saya sungguh menampilkan wajah legioner dalam pelayanan sehari-hari,” ujarnya.
Baginya, Acies tahun ini menjadi momentum memperbaharui komitmen untuk tetap setia dalam pelayanan hingga akhir. Ia juga menyampaikan harapan agar semangat Legio Maria dapat menjangkau keluarga-keluarga, bahkan mendorong pembentukan presidium baru di Lingkungan St. Fransiskus.
Selain itu, pertemuan ini juga menghasilkan komitmen bersama untuk membentuk Legioner Junior sebagai bagian dari upaya regenerasi, demi keberlanjutan karya pelayanan di masa depan.
Lebih dari sekadar upacara, Acies 2026 menjadi ruang perjumpaan iman yang mempererat persaudaraan para legioner di Weetebula. Mereka kembali ke tengah kehidupan dengan satu tekad yang diperbaharui: berjalan bersama Maria untuk mewartakan kemuliaan Tuhan tanpa henti.


