SINAR BUANA, Gema Kawula — Fasilitas di seminari bukan sekadar penunjang kenyamanan, melainkan “guru diam” yang membentuk karakter, kedisiplinan, dan kedalaman spiritual para seminaris. Gagasan itu disampaikan RD. Kamilus Pantus dalam perayaan pemberkatan gedung dapur baru Seminari Sinar Buana, Rabu (6/5/2026), yang dipimpin Mgr. Edmund Woga, CSsR bersama para imam konselebran di tengah suasana syukur dan khidmat.
Perayaan diawali dengan Ekaristi bersama yang dihadiri umat, para imam, seminaris, serta para tamu undangan. Koor dibawakan oleh para seminaris sendiri, menghadirkan suasana doa yang hangat dan penuh penghayatan.
Dalam homilinya, Mgr. Edmund Woga mengajak para seminaris untuk tetap tinggal dalam Kristus agar mampu menghasilkan buah dalam panggilan hidup mereka. Ia mengutip Injil tentang pokok anggur dan ranting-ranting sebagai dasar refleksi bagi kehidupan calon imam.
“Tinggallah dalam Kristus supaya kamu dapat berbuah banyak. Kalau kamu tidak tinggal dalam Kristus, kamu sama seperti ranting-ranting kering yang siap dibakar. Kita tidak ada artinya tanpa Kristus,” ujar Uskup.
Menurutnya, tinggal dalam Kristus dapat diwujudkan melalui kehidupan doa, membaca Kitab Suci, menjalankan nasihat Tuhan, serta kesediaan menjalani proses pembinaan dengan tekun dan setia di dalam seminari.
Pada akhir perayaan Ekaristi, Uskup Weetebula memberkati gedung dapur baru yang berdiri megah di kompleks Seminari Sinar Buana. Gedung tersebut diharapkan mendukung kehidupan harian sekaligus proses pembinaan para seminaris.
Sementara itu, dalam sambutannya, RD. Kamilus Pantus menegaskan bahwa pembangunan fasilitas seminari tidak boleh dipahami semata-mata sebagai pembangunan fisik. Menurutnya, lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk kehidupan para calon imam.
“Dalam pendidikan calon imam, lingkungan fisik berperan sebagai guru diam, maestro silensioso, yang membentuk karakter, kedisiplinan, dan kedalaman spiritual para seminaris,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan seminari bertumbuh di atas empat pilar utama, yakni manusiawi, rohani, intelektual, dan pastoral. Karena itu, setiap fasilitas yang dibangun harus mampu mendukung pertumbuhan keempat aspek tersebut secara seimbang.
Perayaan syukur itu mengusung tema “Diberkati untuk Melayani, Diutus untuk Menjadi Berkat.” tema ini diangkat selain dalam hubungan dengan pemberkatan gedung dapur baru, juga menjadi momen perutusan bagi para seminaris kelas XII yang telah menyelesaikan pendidikan mereka di Seminari Sinar Buana.
Usai pemberkatan dan berkat penutup, acara dilanjutkan dengan resepsi sederhana dan makan malam bersama. Suasana persaudaraan semakin terasa ketika para seminaris, imam, dan umat bersukacita bersama dalam nyanyian dan tarian sederhana di halaman seminari.
Perayaan berlangsung lancar dan penuh hikmat, sekaligus menjadi ungkapan syukur atas bertumbuhnya Seminari Sinar Buana sebagai tempat pembinaan calon imam yang terus berkembang dalam semangat pelayanan dan iman.


