
Weetebula, Gema Kawula, Sebanyak 107 siswa kelas XII SMAK Hati Kudus Yesus Weekombaka mengikuti rekoleksi di Wisma Rumah Unio, Keuskupan Weetebula, pada Jumat–Sabtu, 20–21 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda rutin sekolah menjelang akhir masa studi para siswa.
Rekoleksi mengusung tema “Saya Berpotensi; Berubah dan Berbuah”. Sekolah memberi ruang pengolahan spiritual bagi para siswa sebelum mereka menyelesaikan pendidikan menengah. Kegiatan ini difasilitasi Rm. Pije Talo bersama Fr. Arnold Paga serta tiga guru pendamping: Linus, Nevi, dan Alvi.
Para peserta berangkat dari sekolah menuju Rumah Unio pada pukul 13.00 Wita. Suasana akrab langsung terasa setibanya di lokasi. Para siswa disambut para imam dan karyawan wisma. Momentum ini juga dimanfaatkan para peserta untuk saling menguatkan menjelang kelulusan.
Hari pertama diisi dua sesi refleksi bertema “Saya yang Berpotensi” dan “Hendak jadi apakah saya kelak?” yang dibawakan Sr. Emi, CSV. Materi tersebut mengajak peserta meninjau kembali perjalanan hidup dan rencana masa depan mereka.
Kegiatan dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi di aula Wisma Unio. Pada malam hari, Rm. Tibur Mari, Pr., memimpin doa dan meditasi bertema “Rekonsiliasi dalam Tuhan”. Dalam suasana hening, peserta diajak merefleksikan relasi dengan Tuhan, sesama, dan diri sendiri sebagai dasar untuk berubah dan menghasilkan buah kebaikan.
Memasuki hari kedua, Sabtu 21 Februari 2026, rekoleksi diawali doa dan Ekaristi. Dalam homilinya, Rm. Marsel Lamunde, Pr., mengajak siswa menjadi generasi muda pembawa harapan. “Untuk menjadi pembawa harapan, kita harus terlebih dahulu berubah dalam sikap dan perilaku,” ujarnya.
Sesi berikutnya dibawakan Sr. Sili Bouka, ADM, dengan tema perdagangan orang. Ia membagikan pengalaman pastoral dan mengingatkan peserta akan ancaman human trafficking yang masih terjadi. Menurut dia, generasi muda perlu membangun ketahanan diri dengan menghidupi nilai moral dan Injil agar mampu bersikap kritis dan berani menyuarakan kebenaran.
Salah satu peserta, Riska Tanggu, mengaku kegiatan itu membantunya melihat potensi diri. “Tema-temanya menarik dan membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik,” katanya. Ia berharap pengalaman rekoleksi memacu semangat belajar dan mendukung cita-citanya menjadi biarawati.
Peserta lain, Ines Samba, menilai rekoleksi menolongnya memahami arti keterbukaan dan kejujuran. “Saya lebih mengenal diri sendiri dan belajar menghargai orang lain,” ujarnya.
Di sela kegiatan, Rm. Marsel kembali menegaskan bahwa para siswa adalah masa depan Gereja dan bangsa. Karena itu, disiplin dan pembentukan karakter harus dimulai sejak sekarang.
Rekoleksi ditutup dengan penerimaan Sakramen Tobat dan santap siang bersama. Para siswa mengikuti pengakuan pribadi sebagai bagian dari pendalaman makna pertobatan. Seusai kegiatan, mereka kembali ke Paroki Weekombaka dengan semangat baru.

