37.1 C
Sumba
Saturday, April 4, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

82 Fasilitator Ikuti Pembekalan Katekese Prapaskah di Paroki Katedral Weetebula

Must read

Frater Chiko Ate
Frater Chiko Atehttp://keuskupanweetebula.org
Sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Komsos Weetebula
Para pemandu katekese Paroki Roh Kudus Weetebula mengikuti pembekalan bahan Katekese Prapaskah

Weetebula, Gema Kawula — Aula Gedung Serba Guna (GSG) tampak lebih hidup dari biasanya pada Rabu sore, 25 Februari 2026. Sebanyak 82 umat dari berbagai stasi, lingkungan, dan komunitas basis menghadiri pembekalan katekese prapaskah yang digelar Paroki Katedral Roh Kudus Weetebula.

Mereka tidak sekadar memenuhi undangan pertemuan rutin. Para peserta datang dengan satu tujuan: menyiapkan diri menjadi fasilitator iman yang akan mendampingi umat selama masa Prapaskah.

Kegiatan ini juga dihadiri para biarawan dan biarawati dari komunitas Susteran ADM serta Frateran BHK. Kehadiran lintas unsur Gereja itu mencerminkan keterlibatan bersama dalam gerakan pastoral yang diusung tahun ini, bertema “Gerakan Misioner Gereja dalam Menghadirkan Pengharapan”.

Pastor Paroki, Rm. Louis Keban, Pr., menyebut pembekalan ini sebagai tindak lanjut konkret dari evaluasi pastoral dalam sidang pleno awal tahun. Ia mengatakan, berbagai dinamika umat yang mengemuka dalam refleksi bersama mendorong perlunya penguatan peran komunitas basis sebagai ruang pertumbuhan iman.

“Ini bukan sekadar kegiatan tahunan menjelang Paskah. Ini lahir dari evaluasi dan semangat untuk membangun pembaruan dalam pelayanan,” ujar Louis dalam sambutannya.

Menurut dia, Prapaskah harus dimaknai lebih dari rutinitas liturgi. Masa ini, katanya, adalah kesempatan memperbarui hidup melalui pertobatan yang nyata. “Pantang, puasa, dan doa bukan hanya kewajiban, melainkan jalan pembinaan iman yang konkret,” katanya.

Materi katekese disampaikan Paul Bauju dari Seksi Kitab Suci dan Kateketik. Dalam pemaparannya, Paul menguraikan garis besar bahan yang akan digunakan di tingkat basis, termasuk pendekatan yang kontekstual dengan situasi umat.

Ia menekankan pentingnya peran fasilitator sebagai penggerak dialog iman, bukan sekadar pembaca materi. “Katekese bukan ceramah satu arah. Ini ruang perjumpaan dan pendalaman bersama,” ujarnya.

Setelah pemaparan materi, peserta dibagi dalam kelompok kecil. Mereka melakukan simulasi penyampaian bahan katekese dan mendiskusikan metode yang efektif untuk menjangkau umat di lingkungan masing-masing. Suasana diskusi berlangsung dinamis. Para peserta saling berbagi pengalaman, termasuk tantangan menghadapi rendahnya partisipasi umat atau keterbatasan waktu pertemuan.

Salah seorang peserta mengatakan diskusi kelompok memberi perspektif baru dalam menjalankan tugas. “Kami belajar dari pengalaman satu sama lain. Ini membantu kami lebih siap dan percaya diri,” ujarnya.

Bagi sebagian peserta, pembekalan ini juga menjadi ruang refleksi atas pelayanan yang selama ini dijalani. Mereka menilai pembaruan metode dan penguatan materi menjadi kebutuhan agar katekese tetap relevan dengan realitas umat.

Menjelang penutupan, Rm. Louis kembali menegaskan bahwa peran fasilitator katekese adalah bagian dari panggilan misioner Gereja. Menurut dia, komunitas basis merupakan jantung kehidupan Gereja, tempat iman tumbuh melalui perjumpaan sederhana dan dialog sehari-hari.

“Tugas ini adalah panggilan untuk menginjili sesama. Mulailah dari lingkungan terdekat, dari kelompok kecil umat basis,” katanya.

Ia berharap para peserta tidak hanya membawa pulang materi, tetapi juga semangat baru dalam pelayanan. Penguatan kapasitas fasilitator, menurut dia, menjadi langkah strategis untuk memastikan gerakan pastoral tidak berhenti pada tataran program, melainkan sungguh dirasakan umat.

Kegiatan yang berakhir sekitar pukul 19.48 Wita itu ditutup dengan doa bersama. Para peserta meninggalkan aula dengan membawa bahan katekese dan catatan hasil diskusi. Namun lebih dari itu, mereka membawa komitmen untuk menghadirkan pengharapan di tengah umat selama masa Prapaskah.

Pembekalan ini menjadi salah satu upaya paroki memperkuat peran basis sebagai ruang pembinaan iman yang hidup. Di tengah berbagai tantangan sosial dan pastoral, Gereja setempat berupaya memastikan bahwa Prapaskah tidak hanya dirayakan di altar, tetapi juga dihidupi dalam komunitas kecil umat sehari-hari.

 

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article