32.5 C
Sumba
Thursday, May 28, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

Meski Pernah Lelah dan Gagal, Frater TOP Weetebula Diajak Tetap Menebarkan Jala seperti Petrus

Must read

WEETEBULA, Gema Kawula — Panggilan imamat tidak lahir dari rasa mampu, melainkan dari keberanian untuk tetap taat dan “menebarkan jala” di tengah kegagalan, kelelahan, dan keterbatasan hidup. Semangat itulah yang ditekankan dalam rekoleksi dan pendampingan 11 frater Tahun Orientasi Pastoral (TOP) Projo Keuskupan Weetebula yang berlangsung di Rumah Unio Keuskupan Weetebula pada 11–15 Mei 2026.

Kegiatan tersebut didampingi oleh RD. Oris Loy, RD. Nan Ndate, RD. Mikhael Sene, dan RD. Boni Darus. Dua hari pertama diisi dengan rekoleksi, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan peningkatan kapasitas para frater sebagai bekal dalam perjalanan panggilan dan pelayanan pastoral.

Dalam sesi rekoleksi hari kedua, RD. Oris Loy mengajak para frater mendalami tema Duc in Altum atau “bertolak ke tempat yang dalam” melalui kisah panggilan Simon Petrus. Para frater diajak melihat bahwa iman sejati sering kali menuntut ketaatan yang melampaui logika manusia.

Simon Petrus, yang adalah nelayan berpengalaman, tetap mengikuti perintah Yesus untuk kembali menebarkan jala meskipun semalaman tidak memperoleh ikan. Dari kisah itu, para frater diingatkan bahwa panggilan tidak dibangun di atas rasa hebat atau kemampuan pribadi, melainkan pada kesediaan untuk percaya kepada Tuhan.

RD. Oris juga menekankan bahwa keberhasilan menangkap 153 ekor ikan besar bukan pertama-tama hasil usaha manusia, melainkan tanda campur tangan Allah. Angka tersebut sekaligus dipandang melambangkan Gereja yang terbuka bagi semua orang tanpa membeda-bedakan.

Selain itu, para frater diajak menyadari pentingnya kerendahan hati dalam menjalani panggilan. Sikap Petrus yang merasa tidak layak di hadapan Tuhan disebut sebagai fondasi penting kehidupan imamat. Kesadaran akan kelemahan diri justru membuka hati terhadap karya rahmat Allah.

Sebaliknya, para peserta diingatkan akan bahaya ketika seorang calon imam terlalu mengandalkan kemampuan diri sendiri. Sikap demikian dapat membuat pelayanan kehilangan kedalaman rohani dan perlahan berubah menjadi pencarian pengakuan diri.

Dalam refleksi tersebut, para frater juga diajak tetap setia menjalankan doa pribadi, Ekaristi, dan tugas pelayanan meskipun berada dalam situasi jenuh, gagal, atau menghadapi persoalan komunitas. Mereka didorong untuk terus “menebarkan jala” dengan tulus di tengah berbagai keterbatasan.

Selain sesi rekoleksi, kegiatan juga diisi dengan pelatihan peningkatan kapasitas. Berdasarkan rundown kegiatan, para frater mengikuti berbagai materi, seperti pengerjaan refleksi TOP, mengenal dan menampilkan diri sebagai calon imam, hingga pelatihan menyusun khotbah yang kontekstual. Seluruh rangkaian kegiatan diselingi ibadat harian, misa, sharing refleksi, serta rekreasi bersama.

Para frater juga diberi kesempatan menjalani refleksi pribadi dalam suasana hening dan persaudaraan. Momen tersebut menjadi ruang untuk menata kembali motivasi panggilan dan memperdalam relasi dengan Tuhan.

Kegiatan ini diharapkan membantu para frater TOP Projo Keuskupan Weetebula semakin matang dalam hidup rohani, rendah hati dalam pelayanan, serta siap menjalani panggilan sebagai imam yang setia melayani Gereja dan umat.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article