32.5 C
Sumba
Thursday, May 28, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

“Mangga Merah Mengundang Batu”, Frater TOP Diajak Tak Menjadi Pelempar Batu bagi Panggilan Sendiri

Must read

Frater Chiko Ate
Frater Chiko Atehttp://keuskupanweetebula.org
Sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Komsos Weetebula

WEETEBULA, Gema Kawula — Sebelas frater Projo Keuskupan Weetebula yang tengah menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) berkumpul di Wisma Rumah Unio Keuskupan Weetebula sejak Senin (11/5/2026). Di tengah padatnya medan pelayanan pastoral di berbagai wilayah Sumba, pertemuan yang berlangsung hingga 15 Mei itu menjadi ruang refleksi untuk merawat kembali semangat panggilan imamat yang mulai diuji oleh tantangan pelayanan.

Kegiatan yang digagas Unio Keuskupan Weetebula itu bukan sekadar ajang berkumpul para frater tahun pertama dan kedua. Pertemuan tersebut dirancang sebagai wadah pembinaan berkelanjutan sekaligus dukungan moral agar para calon imam tetap menjaga kualitas hidup panggilan mereka.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin RD. Bonifasius Kristian Darus bersama Rm. Atanasius T. Ndate dan Rm. Paskalis Christian Loy. Dalam homilinya, RD. Boni mengangkat perumpamaan sederhana namun sarat makna: “Mangga merah mengundang batu.”

Menurutnya, perumpamaan itu menggambarkan realitas hidup orang yang terpanggil. Semakin seseorang bertumbuh dan menghasilkan buah dalam pelayanan, semakin besar pula tantangan dan godaan yang dihadapi.

“Jangan melihat kegiatan ini sebagai beban atau sekadar waktu istirahat dari rutinitas pelayanan. Kita hadir di sini untuk menjaga agar ‘mangga merah’ itu tetap indah dipandang dan kita tidak menjadi pelempar batu bagi panggilan sendiri,” ujar RD. Boni.

Ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan arena persaingan untuk menunjukkan siapa yang paling berhasil dalam pelayanan pastoral. Sebaliknya, kegiatan itu menjadi bagian dari proses on-going formation atau pembinaan berkelanjutan bagi para calon imam.

Mengutip kisah Lidia dalam Kisah Para Rasul, RD. Boni mengajak para frater untuk tetap setia menjaga panggilan mereka agar terus bertumbuh dan berbuah dalam pelayanan kepada Allah dan sesama. Ia juga mengingatkan bahwa seorang calon imam tidak cukup hanya aktif melayani, tetapi harus memiliki pengalaman perjumpaan yang nyata dengan Tuhan dan umat.

Suasana refleksi semakin mendalam pada malam pertama pertemuan. Dalam sesi bertajuk “Menyadari Panggilan Tuhan” yang dipandu RD. Nan, para frater diajak kembali mengenang awal mula mereka jatuh cinta pada panggilan imamat.

Di tengah suasana hening Wisma Unio, mereka diminta membuka kembali pengalaman-pengalaman awal ketika untuk pertama kalinya merasakan dorongan untuk mengikuti Kristus sebagai imam. Kesadaran akan keterpanggilan itu, menurut RD. Nan, menjadi fondasi penting agar seseorang tetap mampu mengatakan “ya” kepada Tuhan di tengah tantangan pelayanan.

Sesi refleksi ditutup dengan pertanyaan mendalam kepada para peserta: sejauh mana mereka sungguh menyadari diri sebagai pribadi yang dipanggil dan dipilih Allah.

Bagi sebelas frater TOP Projo Keuskupan Weetebula, pertemuan sepekan ini menjadi ruang untuk menimba kembali kekuatan rohani. Di tengah medan pastoral yang sering melelahkan secara fisik dan batin, mereka diajak merawat janji panggilan agar tetap hidup dan bertumbuh menuju imamat suci.

 

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article