32.5 C
Sumba
Thursday, May 28, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

“Aku Membaptis Engkau…”- Ritus Selesai, Tanggung Jawab Baru Dimulai

Must read

ANDE ATE, GEMA KAWULA— “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Kalimat sakral itu menggema dalam Ekaristi Minggu Paskah III di Stasi Tanggu Dendo, Minggu (19/4/2026), ketika empat balita menerima Sakramen Baptis.

Dalam suasana hening, puluhan umat menyaksikan prosesi pembaptisan. Air dituangkan di kepala anak-anak, nama mereka disebut, dan doa dipanjatkan. Momen itu bukan sekadar penanda penerimaan dalam Gereja, tetapi juga awal perjalanan iman yang berakar dalam keluarga.

Dalam homilinya, Romo Marianus Lecke (Romo Marus) menegaskan bahwa Baptis bukan peristiwa sesaat, melainkan awal perjalanan iman yang menuntut keterlibatan nyata orang tua. Ia mengingatkan bahwa anak-anak belum mampu menyatakan iman secara pribadi, sehingga peran orang tua dan wali baptis menjadi penopang utama—melalui doa, perhatian, dan teladan hidup sehari-hari.

Pesan itu diperdalam melalui refleksi Injil Lukas 24:13–35 tentang perjalanan ke Emaus. Dua murid yang semula diliputi kekecewaan akhirnya mengenal Yesus dalam kebersamaan. Iman mereka bertumbuh melalui proses dan pendampingan, bukan secara instan.

Dalam konteks itu, Romo Marus juga menyoroti realitas di Tanggu Dendo. Banyak keluarga muda merantau ke luar Sumba setelah menikah, sehingga anak-anak kerap tumbuh tanpa pendampingan langsung. “Padahal anak-anak membutuhkan pola asuh yang benar,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan tuntutan ekonomi, tetapi juga berdampak pada pembentukan iman dan karakter anak. Tanpa kehadiran orang tua, nilai-nilai dasar yang seharusnya ditanamkan sejak dini berisiko terabaikan.

Karena itu, ia menegaskan bahwa iman tidak tumbuh dengan sendirinya. Kehadiran orang tua menjadi kunci agar rahmat yang diterima dalam Baptis tidak berhenti sebagai ritus, tetapi berkembang dalam kehidupan sehari-hari.

“Baptis bukan akhir, melainkan awal yang menuntut kehadiran. Jangan menghilang,” tegasnya.

Maria Andelo, mahasiswi Pendidikan Agama Katolik Unika Weetebula, mengatakan pesan itu mengingatkannya pada pentingnya peran orang tua dalam membentuk iman anak. “Iman tidak tumbuh sendiri. Anak-anak butuh pendampingan. Kalau orang tua tidak hadir, mereka bisa kehilangan arah,” ujarnya.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article