32.5 C
Sumba
Thursday, May 28, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

279 Anak dan Remaja Ramaikan Jambore SEKAMI Ande Ate, Umat Rela Berbagi Rumah dan Hati

Must read

ANDE ATE, Gema Kawula — Suasana sederhana namun penuh kehangatan terasa dalam Jambore SEKAMI dan pembinaan remaja di Stasi St. Petrus Pemuda, Paroki St. Paulus Ande Ate, pada 8–10 Mei 2026. Sebanyak 279 anak dan remaja mengikuti kegiatan tersebut dalam semangat persaudaraan, doa, dan sukacita bersama.

Selama tiga hari, peserta mengikuti berbagai kegiatan pembinaan iman dan kebersamaan, mulai dari animasi umum, dinamika kelompok ATM (Anak-anak Temu Minggu), Rosario kreatif, hingga doa dan nyanyian bersama pada malam hari. Halaman stasi dipenuhi suasana akrab yang mempertemukan anak-anak dan remaja dari berbagai stasi dalam semangat persaudaraan.

Kesederhanaan justru menjadi warna utama kegiatan tersebut. Rumah-rumah umat dibuka untuk menerima peserta, sementara dapur umum disiapkan secara gotong royong oleh warga. Banyak umat datang membawa hasil kebun dan ternak mereka untuk kebutuhan makan bersama selama kegiatan berlangsung.

Pastor Paroki St. Paulus Ande Ate, RD. Stefanus Tamu Ama, mengatakan keterlibatan umat menjadi kekuatan utama Gereja dalam mendampingi generasi muda, terutama anak-anak dan remaja.

“Anak-anak ini adalah anak-anak Gereja, anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada kita semua. Karena itu, mereka tidak boleh merasa sendiri. Mereka harus merasakan bahwa Gereja menerima mereka sebagai keluarga,” ujarnya, Jumat (8/5/2026).

Menurut Pastor Stefanus, perhatian sederhana dari umat sering kali menjadi pengalaman yang paling membekas bagi peserta. Rumah yang terbuka, makanan yang dibagi bersama, dan sapaan hangat dari keluarga penerima menjadi bentuk nyata pelayanan Gereja terhadap anak-anak dan remaja.

“Mereka tidak datang mencari rumah mewah atau fasilitas lengkap. Yang mereka cari adalah perhatian, kasih, dan penerimaan. Ketika umat membuka rumah dan hati mereka, di situlah anak-anak dan remaja belajar bahwa Gereja adalah rumah bersama,” katanya.

Ia mengaku terharu melihat semangat gotong royong umat selama kegiatan berlangsung. Banyak umat bekerja tanpa berharap pujian. Ada yang membantu memasak, membawa hasil kebun, bahkan rela berbagi tempat tinggal demi kenyamanan peserta.

“Saya sungguh bersyukur melihat umat melayani dengan hati. Inilah wajah Gereja yang hidup, Gereja yang saling menjaga,” ujarnya.

Direktur Puspas Keuskupan Weetebula, P. Simon Tende, C.Ss.R., meminta seluruh peserta menjalani kegiatan dengan hati terbuka dan sederhana. Menurut dia, pengalaman hidup bersama umat menjadi bagian penting dalam pembinaan iman dan karakter anak-anak serta remaja.

“Kegiatan ini bukan soal tidur di tempat yang nyaman atau makan yang serba cukup. Yang paling penting adalah belajar hidup bersama, saling membantu, dan merasakan bahwa mereka diterima oleh Gereja dan umat,” katanya.

Ia juga mengingatkan peserta agar mengikuti seluruh kegiatan dengan serius dan penuh tanggung jawab.

“Kalau anak-anak dan remaja mau dibentuk dengan baik, mereka akan menjadi kekuatan Gereja dan masyarakat di masa depan. Karena itu, kegiatan seperti ini harus dijalani dengan sungguh-sungguh dan penuh sukacita,” ujarnya.

Salah satu momen yang paling menarik perhatian selama jambore adalah Rosario kreatif Anak SEKAMI. Menjelang sore, lagu “Di Lourdes Di Gua” menggema di lapangan ketika anak-anak berarak sambil berdoa Rosario dan mengikuti Patung Bunda Maria yang ditakhtakan di atas tandu serta dipikul bergantian oleh OMK.

Peserta SEKAMI dari Stasi Tanggu Dendo, Jesika Kaka, mengaku gembira karena baru pertama kali mengikuti jambore tersebut. Baginya, kegiatan itu menjadi pengalaman baru karena bisa bertemu banyak teman dari berbagai stasi.

“Saya senang karena baru pertama kali ikut jambore. Di sini saya dapat banyak teman dan bisa belajar bersama,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain pembinaan iman, kegiatan itu juga mendorong anak-anak agar semakin semangat belajar, terutama dalam kemampuan membaca, memahami pelajaran, dan berhitung. Perhatian terhadap pendidikan anak menjadi bagian dari fokus pastoral Keuskupan Weetebula di tengah tantangan pendidikan di wilayah pedesaan.

 

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article