29.6 C
Sumba
Thursday, May 28, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

Surat Gembala Uskup Weetebula: Migrasi Tanpa Persiapan Jadi Ancaman, Gereja Diminta Bertindak

Must read

WEETEBULA, Gema Kawula — Uskup Keuskupan Weetebula menyerukan kepedulian serius terhadap nasib pekerja migran dan perantau asal Sumba melalui sebuah surat gembala yang dibacakan pada Minggu Paskah V, Minggu (3/5/2026). Dalam pesannya, Uskup menyoroti maraknya persoalan yang dihadapi para perantau—mulai dari minimnya persiapan, eksploitasi, hingga keterlibatan dalam kasus kriminal—serta mendesak Gereja dan umat untuk mengambil langkah konkret.

Surat gembala yang ditulis pada 1 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Raya Santo Yosef Pekerja sekaligus Hari Buruh Internasional menegaskan bahwa kerja merupakan bagian hakiki dari martabat manusia. Mengutip ajaran Gereja, Uskup menekankan bahwa bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga bentuk partisipasi dalam karya penciptaan dan penebusan Allah.

Dalam konteks lokal, Uskup mengungkapkan bahwa banyak umat dari Sumba memilih merantau ke luar pulau bahkan ke luar negeri demi mencari penghidupan yang lebih baik. Keputusan ini didorong oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan lahan, rendahnya pendapatan dari sektor pertanian, hingga iming-iming upah tinggi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Namun, realitas di lapangan kerap jauh dari harapan. Tidak sedikit perantau berangkat tanpa persiapan memadai, minim pendidikan dan keterampilan, serta tanpa dokumen resmi. Kondisi ini membuat mereka rentan mengalami eksploitasi, upah tidak dibayar, kekerasan, hingga perlakuan diskriminatif di tempat kerja.

Lebih jauh, Uskup juga menyoroti sisi lain yang tak kalah memprihatinkan, yakni keterlibatan sebagian perantau dalam tindakan kriminal di daerah tujuan. Ia menilai hal ini bukan hanya persoalan individu, tetapi juga mencerminkan kegagalan bersama—baik Gereja, keluarga, masyarakat, maupun pemerintah—dalam membina dan mempersiapkan mereka.

“Kasus-kasus yang terjadi menuntut perhatian dan tanggung jawab bersama,” demikian penegasan dalam surat tersebut.

Sebagai respons pastoral, Uskup mendesak seluruh elemen Gereja—imam, biarawan-biarawati, paroki, hingga pengurus stasi dan kelompok basis—untuk bergandengan tangan mencegah persoalan serupa di masa depan.

Sejumlah langkah konkret pun diminta untuk segera dilaksanakan di setiap paroki. Di antaranya, melakukan pendataan umat yang merantau, mengaktifkan Seksi Migran dan Perantau, mengadakan katekese tentang migrasi aman, serta menjalin kerja sama dengan berbagai pihak guna memastikan calon perantau memiliki keterampilan dan dokumen yang memadai.

Selain itu, Uskup juga mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam melindungi para pekerja migran.

Menutup pesannya, Uskup mengajak seluruh umat untuk berjalan bersama para perantau dalam semangat sinodal—mendukung, melindungi, dan mendoakan mereka—agar memperoleh kesejahteraan hidup, baik secara jasmani maupun rohani.

Seruan ini sekaligus menegaskan bahwa isu migrasi bukan hanya persoalan sosial-ekonomi, melainkan juga panggilan iman yang menuntut keterlibatan aktif seluruh Gereja.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article