29.6 C
Sumba
Thursday, May 28, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

18 Pasangan Diteguhkan dalam Sakramen Perkawinan, Keluarga Didorong Hidupi Iman dalam Keseharian

Must read

ANDE ATE, Gema Kawula — Sebanyak 18 pasangan suami istri diteguhkan dalam Sakramen Perkawinan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Alfonsus Gollu Dewa, Sabtu (25/4/2026). Momen ini menjadi penegasan iman sekaligus titik awal hidup baru—bahwa keluarga tidak dibangun di atas kesempurnaan, melainkan kesediaan untuk terus bertumbuh bersama dalam Tuhan.

Perayaan Ekaristi pemberkatan nikah dipimpin Pastor Paroki St. Paulus Ande Ate, RD. Stefanus Tamo Ama, didampingi RD. Marianus Lecke. Misa ini menjadi momentum penting bagi pasangan yang selama ini menjalani hidup berkeluarga untuk diteguhkan dalam Sakramen Perkawinan di hadapan Gereja dan umat.

Dalam homilinya, RD. Marianus Lecke mengangkat kisah pesta perkawinan di Kana (Yohanes 2:1–11) sebagai cermin kehidupan keluarga. Ia menegaskan bahwa mukjizat perubahan air menjadi anggur bukan sekadar peristiwa luar biasa, melainkan tanda bagaimana Tuhan bekerja dalam hal-hal sederhana.

“Air menjadi anggur adalah tanda bahwa Tuhan mampu mengubah yang biasa menjadi luar biasa,” ujarnya.

Ia menggambarkan kehidupan keluarga sebagai “enam tempayan”—lambang usaha manusia yang sering kali mencapai batasnya. Namun, keluarga tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Dibutuhkan ruang bagi Tuhan untuk berkarya melalui doa, syukur, dan keterbukaan hati.

Menurutnya, perubahan dalam keluarga justru berawal dari hal-hal kecil: ketaatan, kesetiaan, dan kesediaan melakukan yang sederhana dengan penuh iman.

“Keluarga bukan tempat di mana semuanya sudah sempurna, tetapi tempat di mana Tuhan diundang untuk mengubah yang biasa menjadi berkat,” katanya.

Suasana misa berlangsung khidmat. Umat yang hadir tampak larut dalam doa, merefleksikan pengalaman hidup keluarga—yang tak jarang diwarnai kelelahan, kesalahpahaman, dan luka batin.

Dalam konteks itu, RD. Marianus menekankan pentingnya memilih cinta setiap hari melalui tindakan konkret, seperti saling mendengar, memberi perhatian, dan membangun komunikasi. Ia juga menggarisbawahi peran pengampunan sebagai fondasi ketahanan keluarga.

“Pengampunan adalah obat yang membersihkan hati dalam keluarga,” ujarnya.

Pembina umat Stasi Gollu Dewa, Petrus Ngilla Warata, menambahkan bahwa perjalanan keluarga tidak boleh dijalani sendiri. Ia mengajak komunitas untuk hadir mendampingi pasangan yang baru diberkati.

“Ini bukan hanya perayaan mereka, tetapi tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Ia juga mengapresiasi para pastor, pemateri, dan pendamping yang selama kurang lebih satu bulan membekali para pasangan melalui proses persiapan perkawinan.

Menjelang akhir perayaan, RD. Stefanus Tamo Ama menegaskan:

“Keluarga adalah tempat awal dan utama di mana nilai-nilai surga ditanamkan. Ibarat persemaian, keluarga menjadi tempat menyemai benih-benih kebaikan: kasih, pengampunan, kesabaran, kejujuran, dan iman yang menghadirkan suasana surga dalam kehidupan sehari-hari.”

Ia mengajak umat untuk setia dalam kehidupan menggereja, baik melalui perayaan Ekaristi maupun ibadat, serta membangun semangat kebersamaan dalam komunitas.

“Gereja dibangun melalui kerja bersama—gotong royong, doa, dan kontribusi nyata. Pasangan yang baru diberkati perlu didukung agar komitmennya tetap terjaga,” kata RD. Stefanus Tamo Ama.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article