32.5 C
Sumba
Thursday, May 28, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

Penantian Panjang Berbuah Sukacita, 17 Pasangan Diteguhkan dalam Sakramen Nikah di Katedral Weetebula

Must read

WEETEBULA, Gema Kawula — Tangis haru dan sukacita menyatu di Katedral Roh Kudus Weetebula saat 17 pasangan suami-istri diteguhkan dalam Sakramen Perkawinan dalam Perayaan Ekaristi, Jumat (24/4/2026). Perayaan ini menjadi jawaban atas penantian panjang banyak pasangan yang selama ini hidup bersama, namun belum menerima pengukuhan sakramental.

Misa dipimpin Pastor Paroki RD. Louis Keban, didampingi RD. Evarianus Riba dan RP. Marcel Tanggu Daga. Selain para mempelai dan keluarga, umat dari berbagai lingkungan dan stasi memenuhi gereja, menciptakan suasana khidmat sekaligus hangat dalam semangat persaudaraan.

Para pasangan memasuki gereja dengan wajah berseri, diiringi lagu pembuka Bergema Sangkakala oleh Koor Santa Sesilia. Sebagian melangkah mantap, sementara yang lain tampak menahan haru—mata berkaca-kaca menandai perjalanan panjang menuju hari yang dinanti.

Mayoritas pasangan telah lama hidup dalam ikatan keluarga, namun baru kali ini diteguhkan secara gerejawi. Bagi mereka, perayaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan puncak perjuangan menjaga relasi di tengah berbagai tantangan hidup.

Salah satu mempelai, Agustinus Ama Lende, mengaku mengalami momen batin yang mendalam setelah 27 tahun tidak menyambut Tubuh dan Darah Kristus. “Air mata saya jatuh seperti hujan dan tidak bisa tahan Romo. Saya menangis sunguh-sunguh. Saya sungguh merasakan berkat itu,” ujarnya.

Pelayanan Sakramen Perkawinan massal ini merupakan program tahunan paroki untuk menjangkau umat yang terkendala berbagai situasi. Melalui jaringan ketua lingkungan dan basis, informasi mengenai Kursus Persiapan Perkawinan serta tahapan penerimaan sakramen disampaikan secara intensif.

Anggota Dewan Pastoral Harian sekaligus Seksi Keluarga, Paulus Bauju, mengatakan program ini menjadi upaya konkret Gereja mendekatkan pelayanan kepada umat. “Program ini membantu umat yang mengalami kendala agar tetap dapat menerima Sakramen Perkawinan,” katanya.

Sebelum menerima sakramen, ke-17 pasangan telah melalui sejumlah tahapan, mulai dari Kursus Persiapan Perkawinan, penyelidikan kanonik, hingga persiapan batin melalui Sakramen Tobat.

Dalam homilinya, RD. Louis Keban menegaskan pentingnya menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan keluarga. “Hidup perkawinan Katolik bukan hanya ikatan suami dan istri, tetapi komitmen berjalan bersama Tuhan. Jika Kristus menjadi pusat, damai dan keharmonisan akan bertumbuh,” ujarnya.

Ia juga mengajak para mempelai membangun keluarga sebagai “Gereja kecil” serta mendorong umat untuk terus mendukung dan menguatkan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui perayaan ini, Gereja berharap setiap pasangan mampu membangun rumah tangga yang kokoh, setia, dan berbelarasa, sehingga keluarga sungguh menjadi tanda hidup kehadiran Gereja di tengah masyarakat.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article