WAIKAMBALA, Gema Kawula — Kuasi Paroki St. Markus Waikambala mematangkan rencana pemekaran Stasi Rada Kodi menjadi stasi mandiri sebagai langkah memperluas jangkauan pelayanan sekaligus menjawab pertumbuhan umat di wilayah itu. Pertemuan persiapan digelar pada Senin (4/5/2026) di Stasi St. Paulus Pahala.
Rencana pemekaran yang berpusat di basis Rada Kodi ini telah memasuki tahap akhir dan segera dievaluasi. Sejak pertengahan 2025, proses persiapan dilakukan bertahap, mulai dari pendataan umat, pembentukan pengurus, hingga penyiapan sarana pendukung.
Pertemuan tersebut melibatkan Pastor Kuasi Paroki Rm. Marsi Djou, Pr, pastor rekan, Dewan Pastoral Paroki (DPP), para suster, tokoh umat, serta perwakilan umat dari Stasi St. Paulus Pahala, Stasi St. Lukas Homba Kadubungo, Stasi Sta. Maria Bunda Selalu Menolong Mila Ate, dan Stasi Sta. Maria Stella Maris Waiwondo.
Dalam arahannya, Rm. Marsi menegaskan bahwa pemekaran tidak boleh dipahami sebatas pembangunan fisik. “Pemekaran stasi bukan sekadar pembangunan gedung Gereja, tetapi terutama pembangunan iman umat,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah ini ditempuh agar pelayanan semakin dekat dengan umat. “Pemekaran ini dilakukan agar Gereja semakin menjangkau umat, bukan supaya gereja menjadi kosong,” katanya.
Menurut dia, pemekaran juga membawa konsekuensi tanggung jawab yang lebih besar bagi umat. “Dengan pemekaran ini, tanggung jawab umat akan semakin besar. Karena itu, umat harus siap mengambil bagian dalam pelayanan,” ujarnya.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga kesatuan di tengah proses tersebut. “Meskipun dimekarkan, persatuan iman harus tetap terjaga,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya aspek administrasi. “Data umat dan perkembangan penerimaan sakramen menjadi sangat penting agar kehidupan Gereja tetap berjalan dan bertumbuh.”
Pemekaran ini didorong oleh pertumbuhan umat dan luasnya wilayah pelayanan. Sejumlah basis yang selama ini jauh dari pusat stasi dinilai membutuhkan pelayanan yang lebih dekat dan terarah.
Pembina umat, Markus Jappa, menegaskan bahwa pemekaran didasarkan pada kesiapan umat, bukan karena persoalan internal. “Pemekaran ini bukan karena alasan negatif, tetapi karena umat di basis ini dinilai mampu dan layak menjadi stasi mandiri,” ujarnya.
Ia menyebut, basis Rada Kodi menunjukkan keterlibatan aktif dalam kehidupan Gereja. “Basis ini sangat aktif, baik dalam keterlibatan maupun dalam dukungan nyata bagi kegiatan Gereja,” katanya.
Selain itu, faktor jarak menjadi pertimbangan penting. “Jarak pelayanan yang jauh menjadi salah satu alasan penting, agar umat bisa lebih terlayani secara pastoral,” ujar Markus.
Saat ini, jumlah umat di basis Rada Kodi tercatat 38 kepala keluarga, belum termasuk umat dari sejumlah basis lain yang direncanakan bergabung.
Untuk mendukung rencana tersebut, lahan seluas 30 x 60 meter telah dihibahkan oleh Damianus Dara Tondo sebagai lokasi pembangunan gereja stasi. Sambil menunggu pembangunan, umat melaksanakan ibadat sabda dan perayaan Ekaristi di ruang kelas SD Negeri Rada Kodi.
Selain penyiapan sarana, pembinaan iman melalui katekese dan pertemuan rutin terus dilakukan. Koordinasi antara pengurus stasi persiapan dan pihak kuasi paroki juga diperkuat agar seluruh persyaratan pemekaran terpenuhi.
Jika seluruh tahapan rampung, Stasi Rada Kodi akan menjadi stasi mandiri ketiga yang lahir dari Stasi St. Paulus Pahala—menandai pertumbuhan umat yang bukan hanya bertambah secara jumlah, tetapi juga semakin matang dalam iman dan tanggung jawab menggereja.


