32.5 C
Sumba
Thursday, May 28, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

Taman Doa Yesus Maria Diberkati, Umat Weetebula Diajak Bertumbuh dalam Iman

Must read

WEETEBULA, Gema Kawula — Taman Doa Yesus Maria Katedral Roh Kudus Weetebula resmi diberkati oleh Mgr. Edmund Woga, CSsR pada Jumat, 1 Mei 2026. Kehadirannya membuka ruang baru bagi umat untuk bertumbuh dalam iman dan kehidupan doa.

Pemberkatan berlangsung dalam suasana khidmat dan dihadiri ratusan umat. Rangkaian acara diawali dengan pengguntingan pita, dilanjutkan pemberkatan seluruh kawasan taman doa, termasuk gua Maria, patung Bunda Maria, serta patung Kerahiman Ilahi, sebelum akhirnya berpuncak pada Perayaan Ekaristi.

Dalam perayaan tersebut, Uskup didampingi Pastor Paroki Katedral RD. Louis Keban, Pastor Rekan RD. Evarianus Riba, serta Pastor Rekan Paroki Gollu Sapi RD. Boni Darus.

Dalam homilinya, Uskup Edmund Woga menegaskan bahwa kehadiran taman doa tidak boleh dipandang sebagai pembangunan fisik semata. Ia mengajak umat melihatnya sebagai sarana untuk memperdalam relasi dengan Tuhan.

Ia mengenang lokasi tersebut yang dahulu hanyalah jalan setapak dari biara menuju pastoran. Perubahan itu, menurutnya, menjadi tanda bahwa iman juga harus terus bertumbuh dan berkembang dalam kehidupan umat.

Mengacu pada kisah para rasul, Uskup menegaskan bahwa iman menuntut keberanian untuk bersaksi. Setelah menerima Roh Kudus, para rasul tidak tinggal diam, tetapi keluar dari Yerusalem untuk mewartakan kebangkitan Kristus.

“Umat yang telah dibaptis tidak boleh tinggal diam. Kita dipanggil untuk memberi kesaksian iman dengan berani dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Kristus adalah jalan, kebenaran, dan hidup yang harus menjadi pedoman umat dalam setiap langkah. Bertepatan dengan peringatan Santo Yosef Pekerja, umat diajak meneladani Keluarga Kudus Nazaret dalam membangun kehidupan keluarga yang beriman dan setia.

Pada bagian akhir, Uskup menyoroti Prioritas Pastoral 2026, yakni perhatian terhadap pekerja migran dan perantau. Ia mengungkapkan keprihatinan atas banyaknya warga Sumba yang merantau tanpa keterampilan dan dokumen memadai, sehingga rentan mengalami penderitaan.

Karena itu, ia meminta setiap paroki mendata umat yang merantau serta membentuk posko bantuan sebagai bentuk kehadiran Gereja.

Sementara itu, Pastor Paroki RD. Louis Keban menjelaskan bahwa pembangunan taman doa berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi gua Maria lama yang kurang dijaga kesakralannya.

“Tempat doa harus membantu umat berjumpa dengan Tuhan, bukan kehilangan makna rohaninya,” ujarnya.

Ia mengakui proses pembangunan tidak mudah karena lokasi yang terjal dan membutuhkan biaya besar, termasuk pembangunan tembok penahan dan urugan tanah. Namun, berkat dukungan banyak pihak, taman doa akhirnya dapat diselesaikan.

Romo Louis menyampaikan apresiasi kepada Uskup, Dewan Paroki, para donatur, serta RD. Evarianus Riba yang setia mengawal pembangunan. Ia juga menyebut peran Bapak Bernard serta beberapa umat yang merancang gua Maria dengan kreativitasnya.

Sebagai ruang doa, taman ini memiliki aturan penggunaan yang tegas. Taman doa dibuka setiap hari pukul 06.00 hingga 23.00 WITA. Umat diminta berpakaian sopan, menjaga kesakralan, serta tidak makan, minum, berekreasi, atau berpacaran di area tersebut. Umat juga dilarang membuang sampah sembarangan serta diminta menyalakan lilin hanya di tempat yang disediakan.

Sebagai ungkapan syukur, rangkaian acara ditutup dengan pembagian bingkisan kepada beberapa umat dan makan malam bersama dalam suasana penuh persaudaraan.

 

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article