32.5 C
Sumba
Thursday, May 28, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

Paroki Gollu Sapi Perkuat Edukasi Migran, Tekankan Perlindungan dan Kesiapan Kerja

Must read

GOLLU SAPI, Gema Kawula — Menyikapi meningkatnya keprihatinan terhadap nasib buruh, migran, dan perantau, Paroki St. Fransiskus Xaverius Gollu Sapi menggelar sosialisasi pastoral pada Selasa (29/4/2026). Kegiatan yang diikuti 46 peserta ini menjadi tindak lanjut konkret dari Sidang Evaluasi Pastoral Keuskupan Weetebula yang berlangsung pada 17–18 Maret lalu.

Sosialisasi menghadirkan Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran-Perantau (KKPPMP) Keuskupan Weetebula, RD. Edi Reda, dan diikuti anggota Dewan Pastoral Paroki (DPP) Gollu Sapi. Kegiatan difokuskan pada peningkatan kesadaran dan kesiapan umat, khususnya generasi muda, yang hendak merantau ke luar daerah.

Dalam pemaparannya, RD. Edi Reda menegaskan bahwa tanggung jawab pendampingan tidak hanya berada pada struktur Gereja, tetapi menjadi tugas bersama para imam, biarawan-biarawati, ketua stasi, ketua lingkungan, hingga seluruh umat beriman. “Edukasi yang benar menjadi kunci agar kaum muda tidak terjebak dalam risiko saat merantau,” ujarnya.

Ia menggarisbawahi sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan calon pekerja migran, antara lain kelengkapan dokumen, peningkatan keterampilan kerja, serta pemilihan agen perekrut yang resmi dan terdaftar di Indonesia. Langkah ini dinilai penting agar para pekerja memperoleh pekerjaan yang layak, mendapatkan perlindungan hukum, serta terhindar dari praktik perdagangan manusia yang masih marak dengan berbagai modus penipuan.

Sosialisasi juga menekankan pentingnya pendekatan preventif di tingkat basis. Para peserta diajak lebih proaktif memberikan pendampingan sejak awal, termasuk memastikan setiap calon perantau memiliki informasi yang memadai sebelum mengambil keputusan untuk bekerja di luar daerah.

Menutup kegiatan, Pastor Paroki St. Agustinus Wanno Kaza mengimbau seluruh DPP Gollu Sapi untuk terlibat aktif dalam menghidupi fokus pastoral Keuskupan Weetebula tahun 2026, yakni “Pastoral Migran-Perantau”. Ia menekankan pentingnya pendataan umat yang bekerja di luar Sumba serta perlunya sosialisasi berkelanjutan bagi mereka yang berencana merantau. Hal ini merupakan wujud nyata kepedulian Gereja terhadap umat yang menghadapi risiko di tanah rantau.

Melalui langkah ini, Gereja diharapkan tidak hanya hadir saat masalah terjadi, tetapi lebih awal mengambil peran dalam melindungi dan mempersiapkan umat menghadapi realitas migrasi yang semakin kompleks.

 

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article