KADEKAP, GEMA KAWULA — Setelah bertahun-tahun menghadapi kesulitan memperoleh air bersih, warga Stasi Santo Mikael Kadekap, Desa Kalembu Kaha, Kabupaten Sumba Barat Daya, kini mulai menikmati akses air melalui sumur bor yang dibangun lewat kolaborasi sejumlah lembaga. Fasilitas tersebut diharapkan meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mendukung upaya penurunan stunting dan pemberdayaan ekonomi warga.
Sumur bor itu merupakan hasil kerja sama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Universitas Katolik Weetebula, BRI Kasih, JPIC Keuskupan Weetebula, Paroki Santo Paulus Ande Ate, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya, Pemerintah Desa Kalembu Kaha, serta masyarakat setempat. Sarana tersebut diberkati dalam sebuah ibadat pada Jumat, 24 Juli 2026.
Pastor Vikaris Paroki Santo Paulus Ande Ate, RD. Marianus Lecke, mengatakan kehadiran sumur bor menjadi jawaban atas kebutuhan mendasar masyarakat yang selama ini harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih, terutama pada musim kemarau.
“Selama ini kami melihat umat berjalan jauh membawa jeriken. Anak-anak menunggu air sebelum berangkat sekolah, sementara para ibu harus menghemat setiap tetes air. Kini cerita itu mulai berubah. Air mengalir di tengah kampung kami karena banyak orang percaya setiap manusia berhak memperoleh air bersih,” katanya.
Menurut RD. Marianus, penyediaan air bersih tidak hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berdampak pada kesehatan, pendidikan anak, serta kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, ia mengajak warga menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Sumur ini bukan hanya untuk dimanfaatkan, tetapi juga dipelihara. Berkat yang dirawat akan terus memberi kehidupan,” ujarnya.
Ketua Gugus 3T Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Ir. Enny Widawati, M.T., IPU, mengatakan proses pembangunan sumur tidak berlangsung mudah. Pengeboran sempat mengalami kegagalan sebelum akhirnya berhasil menemukan sumber air.
“Awalnya pengeboran mengalami kegagalan. Namun sedikit demi sedikit jalan terbuka hingga akhirnya masyarakat dapat menikmati akses air bersih. Ini adalah pekerjaan Tuhan dan kami hanya menjadi alat dalam karya-Nya,” katanya.
Enny menjelaskan, program tersebut tidak berhenti pada penyediaan air bersih. Menurutnya, air menjadi pintu masuk bagi berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari peningkatan kesehatan, percepatan penurunan stunting, literasi digital, hingga penguatan ekonomi keluarga.
“Dana sosial adalah amanah yang harus menghasilkan manfaat nyata,” ujarnya.
Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla,ST mengatakan, penyediaan air bersih merupakan salah satu fondasi pembangunan manusia. Akses terhadap air bersih, katanya, berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat, pendidikan anak, serta percepatan penurunan angka stunting.
“Air bersih bukan hanya soal memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air bersih adalah fondasi kesehatan masyarakat, pendidikan anak, dan salah satu kunci penting dalam menurunkan angka stunting,” katanya.
Ia menambahkan, prevalensi stunting di Kabupaten Sumba Barat Daya memang menunjukkan tren menurun hingga sekitar 39,7 persen. Namun, angka tersebut masih memerlukan penanganan berkelanjutan sehingga dibutuhkan sinergi berbagai pihak.
“Dengan keterbatasan anggaran, pembangunan tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah daerah. Kolaborasi menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan,” ujarnya.
Komitmen kolaborasi itu juga ditegaskan Kepala BRI Cabang Waikabubak, Pande Made Yogi Winata. Menurutnya, dukungan melalui program BRI Kasih tidak sekadar menghadirkan infrastruktur, tetapi juga mendorong masyarakat menjadi lebih sehat, produktif, dan mandiri.
“Keberhasilan program ini adalah hasil kerja bersama. Kami hadir bukan hanya memberikan bantuan, tetapi menjadi mitra yang mendorong masyarakat agar semakin mandiri,” katanya.
Pembangunan sumur bor di Kadekap menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga keagamaan, dunia usaha, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi atas persoalan mendasar di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses air bersih.


