Weetebula, Gema Kawula – Perjalanan Ziarah Salib Pra–Sumba Youth Day (SYD) IV terus bergerak dari paroki ke paroki di Keuskupan Weetebula. Pada Selasa, 10 Maret 2026, pukul 16.00 WITA, salib tersebut diarak dari Paroki St. Alfonsus Maria de Liguori Kererobho menuju Paroki Katedral Roh Kudus Weetebula.
Rombongan pengantar salib dari Paroki Kererobho disambut umat Katedral di depan gerbang Katedral Roh Kudus Weetebula. Pastor Paroki bersama dua pastor rekan turut berjalan bersama umat dalam prosesi pengantaran salib menuju Katedral. Ziarah salib ini tidak hanya diikuti oleh Orang Muda Katolik (OMK), tetapi juga melibatkan berbagai kelompok umat seperti SEKAMI, Taruk, serta umat dewasa yang turut memberikan dukungan bagi OMK dalam ziarah iman tersebut.
Sejak pagi hingga sore hari, wilayah Weetebula diguyur hujan lebat. Namun cuaca tidak menyurutkan semangat umat untuk mengikuti perarakan iman tersebut. Bahkan ketika prosesi penyambutan berlangsung di depan gerbang katedral, hujan masih turun rintik-rintik.
Setelah prosesi penyambutan, kegiatan dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi yang diikuti oleh seluruh umat yang hadir. Misa dipimpin oleh Moderator OMK Keuskupan Weetebula, Rm. Tiburtius Plasidus Mari, Pr., dan didampingi delapan imam konselebran.
Dalam khotbahnya, Rm. Tibur mengajak umat merenungkan kembali makna salib dalam kehidupan iman. Ia menyinggung kisah Azaria dalam Kitab Daniel yang tetap setia kepada Tuhan di tengah penderitaan.
Menurutnya, Azaria tidak mengeluh ketika menghadapi ancaman hukuman di dalam perapian, tetapi justru berdoa dengan kerendahan hati dan bersandar kepada Allah.
“Penderitaan tidak harus membuat manusia jauh dari Tuhan. Justru dalam penderitaan, manusia dapat menemukan kekuatan dan semakin dekat dengan Allah,” katanya.
Ia juga menyinggung Injil tentang pengampunan tanpa batas. Dalam perumpamaan Yesus mengenai hamba yang diampuni utangnya, umat diajak menyadari bahwa setiap orang telah menerima belas kasih Allah yang besar.
Karena itu, lanjutnya, orang yang telah menerima pengampunan Tuhan dipanggil untuk mengampuni sesama.
“Salib adalah tanda terbesar kasih Allah kepada manusia. Bahkan ketika disalibkan, Yesus masih berkata: Ya Bapa, ampunilah mereka. Karena itu ziarah salib bukan sekadar perarakan, tetapi perjalanan iman untuk belajar kerendahan hati, kesetiaan, pengampunan, dan kasih tanpa syarat,” ujarnya.
Sebelum penutup misa, Pastor Paroki Katedral Roh Kudus Weetebula, Rm. Louis Keban, Pr., menyampaikan sambutan sekaligus ucapan terima kasih kepada seluruh umat yang telah terlibat dalam ziarah salib tersebut.
Ia secara khusus mengajak Orang Muda Katolik (OMK) memanfaatkan kesempatan ziarah salib sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Yesus.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Weetebula Rm. Jefry Ghoba, Pr., menjelaskan kepada umat mengenai Sumba Youth Day (SYD) IV, mulai dari tujuan kegiatan, latar belakang pemilihan tema, hingga berbagai rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan sebelum, selama, dan setelah perayaan SYD.
Seluruh umat mengikuti perayaan Ekaristi dengan khidmat. Setelah misa selesai, kebersamaan dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana. OMK Filipus Neri Weetebula menyiapkan snack bagi umat yang hadir dan mengajak semua yang hadir untuk mengambil bagian dalam suasana persaudaraan tersebut.
Ziarah Salib Pra–SYD IV ini menjadi bagian dari perjalanan iman kaum muda Katolik di Keuskupan Weetebula dalam mempersiapkan diri menyambut Sumba Youth Day IV.
Kontributor : Ipul
Staf Komsos Weetebula

