37.1 C
Sumba
Saturday, April 4, 2026
Media Resmi Keuskupan Weetebula

Revolusi Mental di Kaki Salib Kalembuweri: Pesan bagi Misionaris Muda Sumba

Must read

Frater Chiko Ate
Frater Chiko Atehttp://keuskupanweetebula.org
Sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Komsos Weetebula
Umat Paroki Kristus Raja Waimangura Memikul Salib SYD IV menuju Paroki Gerardus Mayela Kalembuweri

KALEMBUWERI, Gema Kawula — Pekikan Pakalaka dan Payawau memecah kesunyian sepanjang jalan menuju Paroki St. Gerardus Mayella Kalembuweri, Rabu sore, 5 Maret 2026. Di bawah langit mendung yang menyisakan hawa dingin, ratusan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kristus Raja Waimangura berjalan berarak sambil memanggul Salib Sumba Youth Day (SYD) IV.

Perarakan iman itu berlangsung khidmat. Kaum muda tampil mengenakan busana adat Wewewa, memberi warna budaya yang kuat pada perjalanan rohani tersebut. Sekitar pukul 16.00 WITA, rombongan tiba di gerbang Paroki Kalembuweri.

Kedatangan mereka disambut Pastor Paroki Kalembuweri, Rm. Eduwardus Saba Tudung, Pr., yang akrab disapa Romo Edy. Prosesi penyambutan ditandai dengan pengalungan kain adat—sebuah simbol penghormatan kepada para peziarah sekaligus kepada Salib Kristus yang mereka pikul.

Sore itu gereja Kalembuweri dipenuhi umat. Anak-anak, kaum muda, hingga orang tua memadati bangku gereja, menghadirkan suasana persaudaraan antara umat dari dua paroki.

Rangkaian ziarah dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Romo Edy dan didampingi empat imam konselebran. Dalam homilinya, Romo Edy menyoroti pentingnya “revolusi mental” bagi kaum muda Katolik.

“Kita sedang berziarah untuk mengenang penderitaan Kristus. Karena itu, orang muda perlu melakukan revolusi mental,” ujarnya.

Menurutnya, revolusi mental yang dimaksud bukan sekadar slogan, melainkan perubahan batin untuk setia mengikuti jalan salib Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan agar ziarah salib tidak berhenti pada ritual tahunan tanpa makna.

“Kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah ada buah dari ziarah ini, atau hanya rasa lelah yang tersisa?” katanya.

Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Weetebula, Rm. Jefry Ghoba, Pr., yang turut hadir dalam perayaan itu, menegaskan dimensi misioner dari ziarah salib tersebut. Menurut dia, keberadaan salib di tengah umat bukan sekadar tontonan religius.

“Salib bukan dipanggul supaya orang tahu kita Katolik. Salib adalah undangan untuk berjalan bersama, merenungkan penderitaan Kristus,” ujar Romo Jefry.

Ia menambahkan, orang muda Sumba dipanggil untuk berjalan di bawah salib sebagai tanda ketaatan dan harapan di tengah berbagai ketidakpastian hidup. Karena itu, OMK diharapkan semakin terlibat dalam karya kerasulan di paroki masing-masing.

Ziarah salib ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan menuju Sumba Youth Day (SYD) IV yang akan mencapai puncaknya pada Juni mendatang.

Bagi banyak peserta, perarakan ini bukan sekadar perpindahan salib dari satu paroki ke paroki lain. Ia menjadi perjalanan iman—sebuah ajakan untuk berbenah diri, memperbarui harapan, dan kembali ke tengah masyarakat sebagai saksi Kristus yang membawa perubahan nyata.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article