Weetebula, Gema Kawula — Suasana penuh hikmat menyelimuti Gereja Katedral Roh Kudus Weetebula pada Rabu, 23 Oktober 2025. Ribuan umat memenuhi gedung gereja hingga halaman luar untuk menyaksikan momen bersejarah: tahbisan sepuluh imam baru. Satu berasal dari projo Keuskupan Weetebula dan sembilan lainnya dari Kongregasi Redemptoris (CSsR).
Sejak pukul 15.00 WITA, umat dari berbagai paroki berdatangan. Mereka datang bukan sekadar untuk melihat upacara, tetapi sebagai ungkapan iman dan dukungan bagi para diakon yang akan menerima rahmat imamat. Perayaan ekaristi kudus dimulai pukul 16.30 WITA, dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR, didampingi Ketua Unio Keuskupan Weetebula, Rm. Yakobus Lodo Mema, Pr, dan Provinsial Redemptoris Indonesia Pater Jack Umbu Warata, CSsR.
Langkah-langkah para diakon menuju altar diiringi tarian daerah khas Wewewa yang dibawakan oleh umat Paroki Hati Kudus Yesus Weekombaka, Sumba. Di belakang mereka, para orang tua dan keluarga turut berjalan dengan wajah haru dan penuh kebanggaan. Nuansa liturgi semakin hidup oleh lantunan merdu paduan suara Santa Cecilia yang menambah kekhidmatan perayaan tahbisan.

Dalam kotbahnya, Mgr. Edmund menegaskan kembali hakikat seorang imam sebagai pelayan yang hidup dalam komunitas Gereja. Ia merangkum panggilan imamat dalam empat pilar utama: doa, persaudaraan, karya, dan ketaatan.
“Gereja adalah komunitas doa. Doa pribadi dan komunal harus menjadi yang utama,” ujar Mgr. Edmund, mengingatkan para imam baru untuk meneladani semangat Rasul Paulus yang hidup dalam syukur dan doa.
Ia melanjutkan, Gereja juga adalah komunitas persaudaraan, tempat para imam menjadi teladan dalam kasih dan kerja sama. “Para imam harus menjamin persaudaraan di mana pun mereka berkarya — saling memperhatikan, membantu, dan mendukung satu sama lain,” tegasnya.
Pada pilar ketiga, komunitas karya, sang uskup menekankan bahwa tahbisan bukanlah kehormatan pribadi, melainkan perutusan pelayanan.
“Imam ditahbiskan bukan untuk duduk nyaman di pastoran, tetapi untuk memimpin, membimbing, dan mengajar,” ujarnya disambut anggukan para imam konselebran.
Menutup khotbahnya, Mgr. Edmund berbicara tentang keteraturan dan ketaatan total sebagai ciri khas Gereja Katolik. “Menjadi imam berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah, sebagaimana motto tahbisan: ‘Jadilah kehendak-Mu.’ Hidup imamat harus dijalani dalam disiplin, ketulusan, dan kerendahan hati,” katanya.

Puncak perayaan terjadi saat pembacaan dan penandatanganan Surat Keputusan (SK) Tahbisan Imam yang disambut tepuk tangan panjang dari seluruh umat. Setelah misa, suasana berubah lebih akrab: para imam baru berfoto bersama uskup, imam konselebran, dan keluarga, sebelum berlanjut ke acara ramah tamah di aula GSG Katedral Weetebula.
Malam itu, langit Weetebula terasa berbeda. Sepuluh imam muda melangkah keluar dari katedral dengan wajah berseri — siap melayani umat, membawa terang panggilan yang tumbuh dari keheningan dan doa.

